JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 1. Teknologi Spesifik Lokasi

 
 

Kajian Sistem Usahatani Padi Gogo dan Jagung di Lahan Suboptimal Mendukung Swasembada Padi dan Jagung di Jawa Barat

Optimalisasi sumberdaya lahan kering untuk budidaya tanaman padi gogo dan jagung memerlukan inovasi teknologi yang mampu mengatasi permasalahan tersebut.  Salah satu inovasi teknologi yang dapat diterapkan pada lahan kering adalah penerapan sistem usahatani. Kadarsan dalam Shinta (2011) menyatakan bahwa sstem usahatani adalah suatu kegatan pertanan dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha mengelola unsur-unsur produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan ketrampilan dengan tujuan meningkatkan produktivitas sumberdaya lahan pertanian dan meningkatkan pendapatan petani. Kegiatan ini dikelola berdasarkan kemampuan lingkungan fisik, biologis dan sosial ekonomi. Selain itu kegiatan usaha tani disesuaikan dengan tujuan, kemampuan dan sumberdaya yang dimiliki oleh petani.

 

 
 

Uji Adaptasi Teknologi  Proliga dan Pascapanen Bawang Merah di Lahan Dataran Rendah

Teknologi proliga merupakan paket teknologi dan benih guna melipatgandakan produksi bawang merah baik saat on season maupun off season (di luar musim tanam). Paket teknologi proliga meliputi teknologi budidaya, varietas unggul, teknologi TSS (True Shalloty Seed). Penggunaan teknologi TSS pada teknologi proliga dapat meningkatkan hasil umbi bawang merah hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan penggunaan benih umbi (produktivitas hingga 26 ton/ha). Keunggulan lainnya, bebas dari penyakit dan virus, kebutuhan benih TSS bawang merah lebih sedikit (2-3 kg/ha dengan harga Rp 1,2 juta/kg) dibandingkan dengan benih umbi (± 1-1,2 ton/ha dengan harga Rp 15-25 juta kg). “Pengangkutannya lebih mudah dan daya simpan lebih lama dibanding umbi. Benih bawang asal biji masih dapat berkecambah walaupun disimpan selama 1-2 tahun. Sebaliknya benih bawang asal umbi bibit hanya dapat disimpan sekitar empat bulan dalam gudang. pengembangan teknik produksi TSS lebih diarahkan ke agroekosistem lahan kering di dataran tinggi. Dataran tinggi (suhu 16-18oC) merupakan lokasi yang sesuai untuk meningkatkan pembungaan bawang merah. Karena itu TSS sebagai sumber benih akan lebih optimal dikembangkan di dataran tinggi. “Daerah tersebut diusahakan merupakan daerah yang tidak ada kabut karena bisa menghambat pembungaan dari biji botani

 

 
 

Optimasi Usaha Ternak Sapi Pasundan Melalui Pengelolaan Terpadu Manajemen Pemeliharaan Ternak

Potensi pengembangan Sapi Pasundan sebagai sumber penghasil daging di Jawa Barat memiliki peluang yang sangat besar, hal ini didukung dengan karakteristik Sapi Pasundan sendiri yang sudah beradaptasi secara luas dengan kondisi wilayah di Jawa Barat serta faktor pendukung lainnya berupa dukungan budaya masyarakat, dan sumberdaya alam untuk penyediaan pakan. Namun yang menjadi kendala selam ini bahwa usahaternak Sapi Pasundan sebagian besar masih merupakan usaha peternakan rakyat berskala kecil yang berada pada lingkungan perdesaan dan biasanya teknologi yang dipergunakan masih sederhana atau tradisional. Menurut Nastiti (2008), usaha peternakan di Indonesia didominasi oleh usaha rakyat dengan menggunakan cara tradisional masih merupakan usaha sampingan serta lebih menjadi “tabungan” dan salah satu indikator “status sosial”.

 

2. Teknologi yang Terdesiminasi ke Pengguna 

 
  Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Pangan

Padi dan jagung merupakan tanaman pangan yang ketersediaannya sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Kelangkaan padi dan kedelai akan memicu adanya gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat berdampak lebih luas. Oleh karena itu, ketersediaan padi mutlak harus dipenuhi.

Permentan No. 56 tahun 2016 telah memberikan arahan dan pedoman mengenai pengembangan kawasan pertanian. Indikator outcome yang diharapkan dari adanya pengembangan kawasan pertanian dari aspek teknis adalah meningkatnya produksi, produktivitas dan mutu komoditas unggulan, meningkatnya aktivitas panen dan kualitas produk, meningkatnya aktivitas pengolahan dan nilai tambah produk, meningkatnya jaringan pemasaran komoditas, meningkatnya peningkatan pendapatan pelaku usaha komoditas, meningkatnya penyerapan tenaga kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatnya aksesibilitas terhadap sumber pembiayaan, pasar input dan output, teknologi dan informasi.

 

 
 

Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Hortikultura

Pada tahun 2016, pendampingan kawasan hortikultura di Jawa Barat dilaksanakan di 2 kabupaten bawang merah yaitu Cirebon dan Majalengka; dan di 3 kabupaten cabai merah, yaitu Garut, Ciamis, dan Kab Tasikmalaya. Kegiatan pendampingan oleh BPTP Jawa Barat dilakukan untuk mendampingi kawasan hortikultura binaan Direktorat Jenderal (Dirjen) Hortikultura dan pendampingan demfarm inovasi teknologi.

 

 
 

Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Peternakan

Kegiatan pendampingan kawasan ternak pada tahun 2018 merupakan tahun keempat. Hasil yang sudah dicapai pada tahun pertama antara lain bahwa lokasi pendampingan memiliki potensi untuk pengembangan usaha peternakan yang didukung dengan penerapan teknologi dan pembinaan yang lebih intensif, introduksi inovasi teknologi pakan yang dilakukan melalui demplot menunjukan pertambahan bobot badan sapi potong dan domba yang lebih tinggi serta kualitas susu yang lebih baik dibandingkan eksisting, tahun kedua dilakukan demplot teknologi berdasarkan hasil perbaikan teknologi tahun 2015 serta mulai dirintis pembinaan usaha kelompok dalam pembuatan pakan lengkap memanfaatkan bahan pakan lokal yang mampu meningkatkan produktivitas ternak, pengolahan limbah ternak untuk diversifikasi produk usaha ternak dan meningkatkan kinerja kelompok dalam usaha bersama menghasilkan diversifikasi produk peternakan. Peningkatan pengetahuan, keterampilan dan motivasi usaha ternak melalui pelatihan dan studi banding. Inisiasi pemasaran produk peternakan dilakukan melalui temu lapang dan temu usaha produk peternakan. Tahun 2017, lokasi pendampingan kawasan merupakan lokasi baru yang  bersinergi dengan kegiatan UPSUS SIWAB, telah dilakukan pengembangan kawasan dengan prinsip minimum waste serta meningkatkan kinerja kelembagaan kelompoktani yang berorientasi usaha sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat dan kemampuan peternak dalam usahanya serta dapat memberikan penghasilan tambahan.

 

 
 

Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Perkebunan

Kondisi agribisnis teh di Provinsi Jawa Barat yang merupakan sentra produsen teh nasional terbesar dengan luas areal 77,75% dari total areal teh di Indonesia kini dalam kondisi memprihatinkan, tak terkecuali perkebunan teh rakyat yang menguasai 51,33% dari total luas areal perkebunan teh di Provinsi Jawa Barat. Hal ini terlihat di mana produktivitas teh rakyat masih dibawah 1 ton/ha/tahun, yaitu 871 kg/ha/tahun.  Selanjutnya Sopari (2015) melaporkan bahwa nilai harga pucuk teh di tingkat petani Jawa Barat sekitar Rp 1.600,00/kg, yang idealnya harga pucuk teh adalah minimal Rp 2.000/kg agar sedikit memberikan keuntungan buat petani. Di sisi lain, produksi teh rakyat terus menurun lantaran populasi tanaman teh per hektar tidak penuh. Ditambah, kurangnya pemeliharaan tanaman teh, pengendalian hama penyakit dan cara memetik teh mengakibatkan produktivitas teh terus melorot.

Untuk memenuhi permintaan pasar komoditas perkebunan seperti teh yang terus meningkat, maka usaha-usaha ke arah peningkatan produksi secara kuantitatif dan kualitatif perlu terus dikembangkan, terutama dalam perluasan areal, peremajaan tanaman, penggunaan bahan tanam unggul, proteksi tanaman secara terpadu, pemeliharaan tanaman yang baik, dan perbaikan teknologi pengolahan (Wachyar et al., 2006).  

 

 
 

Penguatan Tagrimart dan Dukungan Pengembangan KRPL

Pembangunan dan pengembangan Taman Agroinovasi BPTP akan berperan juga sebagai “Visitor Plot” yaitu media percontohan dalam  penyebaran informasi teknologi tepat guna spesifik lokasi yang dimiliki BPTP kepada pemangku kebijakan, komunitas lingkup pertanian dan  masyarakat yang mengunjunginya.

Kegiatan percontohan tersebut akan dilakukan di lahan pekarangan BPTP Jawa Barat melalui optimalisasi lahan pekarangan dan optimalisasi teknologi spesifik lokasi dengan melibatkan seluruh Peneliti, Penyuluh, Teknisi Litkayasa,  dan tenaga administrasi.

Kegiatan Taman Agro Inovasi dan Agro Inovasi Mart (Tagrimat), perlu didukung dengan pembangunan Kebun Benih Induk (KBI). Keberadaan KBI ini menjadi sentra penyediaan bibit untuk didistribusikan ke setiap kabupaten/kota seperti yang sudah berjalan sekarang ini melalui Tim Penggerak PKK (TPPKK).

PKK sudah mengembangkan KRPL di beberapa kabupaten/kota. Untuk menjamin kegiatan KRPL terus berjalan (berkelanjutan) perlu pendamping teknologi dari peneliti/penyuluh di BPTP.

 

 
 

Koordinasi Dukungan Teknologi dan Inovasi UPSUS Pencapaian Swasembada PJK  dan Peningkatan Komoditas Utama Kementan

NAWA CITA atau agenda prioritas Kabinet Kerja mengarahkan pembangunan pertanian ke depan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, agar Indonesia sebagai bangsa dapat mengatur dan memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara berdaulat. Kedaulatan pangan diterjemahkan dalam bentuk kemampuan bangsa dalam hal: (1) mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, (2) mengatur kebijakan pangan secara mandiri, serta (3) melindungi dan menyejahterakan petani sebagai pelaku utama usaha pertanian pangan. Dengan kata lain, kedaulatan pangan harus dimulai dari swasembada pangan yang secara bertahap diikuti dengan peningkatan nilai tambah usaha pertanian secara luas untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Ketahanan pangan merupakan salah satu ciri kemandirian bangsa dalam mengelola sumber daya potensial dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat.  Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2015-2019 menyatakan bahwa salah satu tantangan pembangunan pertanian adalah bagaimana mencapai pemenuhan kebutuhan bahan pangan. Salah satu perwujudan dari kemandirian pangan dan kunci keberhasilan Program Ketahanan Pangan Nasional adalah melalui Swasembada Pangan (Padi, Jagung, Kedelai) dan kemandirian komoditas utama lainnya.

 

 
 

Pendampingan Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (SIWAB)

Permintaan produk peternakan cenderung terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, perkembangan ekonomi masyarakat, perbaikan tingkat pendidikan, serta perubahan gaya hidup sebagai akibat arus globalisasi dan urbanisasi. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan pangsa konsumsi daging sapi cukup besar di Indonesia dan komoditas andalan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi daging berasal dari ternak sapi potong. Pada Tahun 2014 sekitar 52,43% produksi daging Jawa Barat (73.718.127 ton) berasal dari komoditas sapi (BPS, 2015). Produksi daging sapi Jawa Barat mengambil bagian 14,8% dari produksi daging sapi nasional (497.670.000 ton) (Ditjenak, 2015). Pada saat ini, kebutuhan konsumsi daging Jawa Barat belum dapat dipenuhi oleh produksi domestik. Kemampuan domestik Jawa Barat dalam penyediaan daging sapi, baru mencapai sekitar 20% dari total kebutuhan, sementara sisanya disediakan melalui impor ternak hidup dan daging antar provinsi dan antar negara.

 

 
 

Pengembangan Ayam Kampung Unggul Berbasis Rumah Tangga Di Jawa Barat

Produk peternakan seperti daging, telur dan susu merupakan kelompok pangan sumber protein yang penting bagi tubuh untuk dapat hidup aktif dan sehat. Ternak unggas lokal seperti ayam kampung dan itik mempunyai peran yang cukup besar sejak lama dalam menyediakan produksi daging dan telur unggas masyarakat Indonesia. Berdasarkan data BPS (2017), penyediaan daging ternak secara nasional sebesar  3.167.664 ton pada tahun 2016 dimana ayam ras mampu mensuplai 1.795.323 ton (56,68%), ayam kampung sebesar 315.538 ton (9,96 %), dan itik  36.346 ton (1,15%) terhadap produksi daging nasional. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki populasi dan produksi daging ayam Kampung terbanyak di Indonesia yaitu 28,198 juta ekor atau 9,44% dari total populasi di Indonesia, dan produksi daging ayam kampung mencapai  25.291 ton (8,04%) dari produksi daging ayam kampung nasional (BPS, 2017).

 

 
 

Pengembangan Pertanian Bioindustri Berbasis Padi di Jawa Barat

Implementasi model pertanian bioindustri berbasis padi pada tahun 2016, telah berhasil memverifikasi komponen teknologi pada budidaya padi, ubi cilembu, dan jagung manis organik.Teknologi budidaya padi organik yang dihasilkan mampu meningkatkan produktivitas padi organik varietas lokal joglo, midun merah, dan midun putih dari rata-rata 3,5 t/ha masing-masing menjadi 4,56; 4,32; dan 5,12 t/ha. Produktivitas ubi cilembu dan jagung manis dengan penerapan teknologi organik masing-masing mencapai 5 t/ha dan 27,6 t/ha. Dengan demikian, model bioindustri berbasis padi  tersebut secara teknis sudah layak untuk dikembangkan pada skala yang lebih luas. Ditunjang dengan inovasi teknologi pengolahan produk ikutan  dari padi, ubi cilembu, dan jagung manis menjadi aneka produk olahan lain yang memiliki nilai tambah, dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga petani.

 

3. Rekomendasi Kebijakan Pembangunan Pertanian.

 
 

Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi padi dengan kontribusi terbesar terhadap produksi beras nasional dengan kontribusi rata-rata 17,6% selama kurun waktu 2001-2010 (BPS Jawa Barat, 2010; Diperta Provinsi Jawa Barat, 2010). Pada tahun 2017 sasaran produksi nasional adalah 78.130.000 ton dan target produksi Jawa Barat adalah 13.750.000 ton. Upaya peningkatan produksi padi  perlu lebih ditingkatkan lagi dengan optimalisasi penggunaan teknologi yang sudah tersedia, serta rehabilitasi dan pembangunan sarana dan prasarana irigasi. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah benih, karena benih merupakan sarana produksi utama dalam budidaya tanaman. Dengan kualitas benih yang baik, maka nilai suatu hasil pertanian akan lebih tinggi.

 

4. Model Pengembangan Inovasi Pertanian Bioindustri Spesifik Lokasi

 
 

Pengembangan Pertanian Bioindustri Berbasis Padi di Jawa Barat

Sistem pertanian bioindustri berbasis padi yang dirancang pada kegiatan tahun 2015 telah berhasil mengoptimalkan potensi sumberdaya lahan sawah di Desa Pasir Biru, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Berdasarkan PRA kemudian dianalisis dan disintesiskan, diperoleh rancangan system pertanian bioindustri berbasis padi di Desa Pasir Biru, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang.

Secara teknis implementasi model pertanian bioindustri berbasis padi pada kegiatan tahun 2016 sudah layak untuk dikembangkan pada skala yang lebih luas. Pertanaman padi organik yang menerapkan teknologi budidaya dengan baik produktivitasnya meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas varietas Inpari 24 bisa mencapai 6,4 t/ha. 

 

 
 

Model Pengembangan Bioindustri Sapi Perah Berkelanjutan di Jawa Barat

Usaha peternakan sapi perah di Provinsi Jawa Barat sebagian besar (90%) diusahakan dalam bentuk peternakan rakyat yang dibina dalam wadah koperasi susu. Pakan merupakan permasalahan utama dalam usahaternak sapi perah. Keterbatasan hijauan pakan yang berkualitas menyebabkan peternak memanfaatkan limbah pertanian sebagai sumber hijauan pakan. Hal ini berdampak pada kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan, karena sapi perah memerlukan sumber serat berkualitas selain pakan konsentrat. Perlu upaya mengoptimumkan sumber serat yang tersedia sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan. Upaya ini dapat ditempuh dengan mengoptimumkan kinerja rumen dengan menambahkan biosuplemen probiotik. Probiotik adalah mikroba hidup dalam media pembawa yang menguntungkan ternak karena menciptakan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan sehingga menciptakan kondisi yang optimum untuk pencernaan pakan dan meningkatkan efisiensi konversi pakan sehingga memudahkan dalam proses penyerapan zat nutrisi ternak.  Probiotik adalah bahan makanan yang tidak tercerna dan memberikan keuntungan pada inang melalui simulasi yang selektif terhadap pertumbuhan aktivitas dari satu atau sejumlah bakteri yang terdapat pada kolon (Roberfroid, 2000).  

 

 
 

Model Pengembangan Pertanian Bioindustri Berbasis Tanaman Hias di Jawa Barat

Salah satu produk pertanian yang memiliki potensi nilai ekonomi tinggi adalah Tanaman hias (florikultur). Tanaman ini memberikan kontribusi cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. Salah satu daerah sentra tanaman hias di Indonesia adalah provinsi Jawa Barat. Menurut data BPS (2015), volume produksi tanaman hias di propinsi Jawa Barat yang terbesar diperoleh bunga krisan dengan total produksi 208.768.506 dari luas tanam 2.612.862 Ha , diikuti mawar sebesar 11.821.115, anggrek 4.564.508 dan sedap malam 3.731.797 tangkai. Sementara untuk produksi tanaman hias di Jawa Barat tanaman krisan menempati urutan pertama dengan produksi tertinggi di kabupaten Cianjur (107.815.250 tangkai), diikuti dengan kabupaten Bandung Barat (52.974.595 tangkai) dan kabupaten Sukabumi (45.077.705 tangkai). Permintaan tanaman hias sangat tinggi baik dalam bentuk bunga potong maupun tanaman pot. Menurut data Dirjen Hortikultura (2015), nilai ekspor komoditas florikultura (US $) sebesar 16.304.091 dengan laju pertumbuhan 29,64% selama kurun waktu 5 tahun (2010-2014).

 

5. Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Mendukung Swasembada Pangan Terintegrasi Desa Mandiri Benih

 
 

Benih bermutu berperan penting dalam meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman. Pemeliharaan mutu sistem varietas unggul untuk setiap kelas benih dilakukan sejak sebelum tanam (sumber benih dan lahan yang akan digunakan di pertanaman) dan selama prosesing (Puslitbangtan, 2016).

Peningkatan produksi padi menuju swasembada dan kemadirian pangan, target Provinsi Jawa Barat untuk peningkatan produksi padi sebesar 2 juta ton. Untuk mencapai target tersebut, pada Tahun 2017 tanam padi seluas 2.067.636 ha, di mana luas tanam padi sawah 1.937.816 ha dan padi gogo 129.820 ha (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2016). Tahun 2018, sasaran tanam padi sawah 2.768.081 ha (Dirjen Tanaman Pangan, 2017). Untuk memenuhi kebutuhan benih padi sawah sebesar 69.201,025 ton dengan asumsi kebutuhan benih 25 kg per ha.

 

6.  Perbanyakan Benih Sumber Padi dan Kedelai

 
 

Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi padi terbesar dengan kontribusi rata-rata sebesar 17,6% dari total produksi nasional dengan produktivitas diatas produktivitas nasional (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2015). Dalam upaya mewujudkan peningkatan produksi padi menuju swasembada dan kemandirian pangan secara nasional,  Provinsi Jawa Barat menargetkan pada setiap tahunnya memberikan tambahan peningkaan produksi padi sebesar 2 juta ton. Untuk mencapai target tersebut, pada tahun 2017 proyeksi tanam padi di Jawa Barat seluas 2.067.636 ha yang terbagi ke dalam luas tanam padi sawah 1.937.816 ha, dan padi gogo 129.820 ha (Dinas Pertanaian Tanaman Pangan, 2016). Untuk tahun 2018 sasaran tanam padi sawah di Jawa Barat seluas 2.768.081 ha (Dirjen Tanaman Pangan, 2017). Dari luasan tersebut maka kebutuhan benih padi sawah dengan asumsi 25 kg per ha adalah 69.202,025 ton. Sampai saat ini kebutuhan benih baru dapat terpenuhi sekitar 60% (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2016).

 

7. Sumber Daya Genetik Yang Terkonservasi dan Terdokumentasi (Karakterisasi danPendaftaran Varietas Sumber Daya Genetik  Tanaman Buah dan Tanaman Padi Spesifik Lokasi Jawa Barat) 
 
 

Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibidang pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) memiliki tugas melakukan koordinasi dan pembinaan terhadap 31 BPTP dan 1 Satker sesuai SK Kepala Badan Litbang Pertanian No. 344/Kpts/OT.140/J/12/2005. Fungsi koordinasi dan pembinaan terhadap BPTP dilaksanakan BBP2TP dengan memanfaatkan jaringan penelitian dan pengembangan lingkup Badan Litbang Pertanian dan/atau lembaga litbang lainnya. Selain itu, BBP2TP juga akan berperan dalam pembinaan pengembangan sumberdaya manusia (termasuk pembinaan karier struktural dan fungsionalnya) serta melakukan koordinasi dan pembinaan dalam publikasi hasil-hasil penelitian/ pengkajian yang telah dihasilkan oleh BPTP.

 

8. Dukungan Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Indek Pertanaman (IP) Padi (Lahan Kering dan Sawah tadah hujan) di Jawa Barat 

 
 

Lahan sawah tadah hujan di Jawa Barat dengan luasan mencapai 184.828 hektar merupakan lumbung pangan kedua setelah lahan sawah irigasi. Disamping itu, keberadaan lahan kering yang relatif luas mencapai 139.361 hektar juga merupakan lahan potensial untuk pengembanaan tanaman padi guna meningkatkan  produksi padi di Jawa Barat. Dilihat dari potensi lahan, tampaknya lahan kering dan sawah tadah hujan merupakan alternative yang menjanjikan di masa depan untuk dikembangkan.

Permasalahan yang menonjol pada lahan sawah tadah hujan adalah produktivitasnya masih rendah sekitar 1,8-3,11 t/ha sementara hasil penelitian IRRI-CRIFC sudah mencapai 6,5-7,5 ton/ha.  Jika dicermati dari hasil tersebut, terdapat kesenjangan produktivitas di tingkat petani, yaitu sekitar 4,5 t/ha. Jika teknologi yang telah dihasilkan diterapkan dan dianjurkan pada petani, mestinya produksi pada lahan sawah tadah hujan meningkat.

Ekosistem lahan kering dan sawah tadah hujan secara fisik beresiko disertai oleh intensitas organisme pengganggu tanaman (hama, penyakit, gulma) menyebabkan petani enggan atau ragu-ragu menerapkan teknologi intensif pada padi sawah tadah hujan (Lampe, 1993).  Umumnya petani pada lahan kering dan  lahan sawah tadah hujan masih menggunakan teknologi tradisional, sementara petani padi sawah irigasi telah lama menerapkan teknologi maju.

 

9. Tranfer Inovasi

 
 

Peningkatan Komunikasi Penyuluh Di Jawa Barat

Permasalahan pokok yang dihadapi selama ini adalah rendahnya kualitas dan kuantitas tenaga penyuluh (termasuk di provinsi Jawa Barat). Diharapkan dari kegiatan ini mampu memberikan sumbang pemikiran bagi peningkatan kapasitas penyuluh pertanian yang pada akhirnya mampu meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani.

Peningkatan kapasitas penyuluh yang dimaksudkan dalam kegiatan ini adalah perilaku yang diperagakan secara aktual oleh seorang penyuluh sebagai respon terhadap tugas yang diembannya. Tujuan penyuluhan pertanian adalah untuk meningkatkan kapasitas (keberdayaan) dan kemandirian petani, maka peningkatan kapasitas penyuluhan adalah kapasitas yang mengacu kepada konsep-konsep pemberdayaan yaitu yang mampu meningkatkan kapasitas (keberdayaan) dan kemandirian. Berdasarkan kajian deduktif yang mengacu kepada pemikiran Sayogyo (1999), Florus (1998), Ife (1995), Slamet (2003), Narayan (2002) dan Sumardjo dkk. (2002), minimal ada enam tugas pokok penyuluh pertanian yang bertujuan untuk pemenuhan pengembangan kapasitas dan kemandirian, yaitu: (1) Pengembangan perilaku keinovatifan; (2) Penguatan partisipasi; (3) Penguatan kelembagaan; (4) Penguatan akses terhadap berbagai sumberdaya; (5) Penguatan kemampuan berjaringan dan (6) Kaderisasi.

 

10. Inovasi Perbenihan dan Pembibitan

 
 

Produksi Benih Untuk Percepatan Diseminasi Varietas Unggul Baru

Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi padi terbesar dengan kontribusi rata-rata sebesar 17,6% dari total produksi nasional dengan produktivitas diatas produktivitas nasional (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2015). Dalam upaya mewujudkan peningkatan produksi padi menuju swasembada dan kemandirian pangan secara nasional, Provinsi Jawa Barat menargetkan pada setiap tahunnya memberikan tambahan peningkatan produksi padi sebesar 2 juta ton. Untuk mencapai target tersebut, pada tahun 2017 proyeksi tanam padi di Jawa Barat seluas 2.067.636 ha yang terbagi ke dalam luas tanam padi sawah 1.937.816 ha, dan padi gogo 129.820 ha (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2016). Untuk tahun 2018 sasaran tanam padi sawah di Jawa Barat seluas 2.768.081 ha (Dirjen Tanaman Pangan, 2017). Dari luasan tersebut maka kebutuhan benih sebar padi sawah dengan asumsi 25 kg per ha adalah 69.202,025 ton. Sampai saat ini kebutuhan benih baru dapat terpenuhi sekitar 60% (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2016).

Kedelai merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia. Pencapaian swasembada kedelai dapat diwujudkan dengan peningkatan produksi mengurangi impor kedelai. Kebutuhan kedelai Nasional saat ini mencapai 4 juta ton/tahun sedangkan produksi kedelai tahun 2015 hanya 1,56 jut ton/tahun, sehingga masih terdapat kekurangan pasokan sebanyak 2,44 juta ton kedelai. Produktivitas nasional kedelai saat ini rata-rata mencapai 1,5 t/ha dengan kisaran 0,8 –2,4 t/ha di tingkat petani, sedangkan di tingkat penelitian sudah mencapai 1,7 –3,2 t/ha, bergantung pada kondisi lahan dan teknologi yang diterapkan (Balitbangtan, 2016)

 11. Produksi Benih Bawang Merah

 
 

Perbanyakan Benih Biji Botani Bawang Merah (TSS)

Bawang merah termasuk komoditi sayuran yang berkontribusi terhadap inflasi dengan tingkat konsumsi rata-rata bawang merah adalah 4,56 kg/kapita/tahun atau 0,38 kg/kapita/bulan (BPS, 2014), sehingga menjadi komoditas unggulan nasional dalam Renstra Kementerian Pertanian. Kebutuhan bawang merah tersebut belum dapat dipenuhi dari produksi nasional yang baru dapat memenuhi 15-16% setiap tahunnya (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2010), sedangkan permintaan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan menjadikan ketersediaan bawang merah seringkali kurang dari kebutuhan. Hal ini mendorong naiknya harga bawang merah hingga Rp. 50.000 per kg dan benih umbi ikut dijual sebagai umbi konsumsi, sehingga ketersediaan umbi konsumsi dan benih umbi menjadi langka. Kondisi ini terkadang mengakibatkan dibukanya impor bawang merah (Hilman et al., 2014).

 

12. Produksi Benih Bawang Kentang

 
 

Dukungan Perbenihan Benih Sebar Komoditas Kentang

Kementerian Pertanian telah mengeluarkan kebijakan operasional dalam rangka mendorong ketersediaan benih bermutu melalui penetapan Tahun 2018 sebagai Tahun Perbenihan. Mekanisme pengadaan dan produksi benih akan dilakukan oleh Dierktorat Jenderal komoditas serta Badan Litbang Pertanian pada tahun 2017 dan 2018. Dukungan perbenihan pada komoditas hortikultura diarahkan untuk mendukung pengembangan bawang putih, kentang, jeruk, mangga, manggis, durian, pepaya, pisang, salak, apel, jengkol, petai, dan sukun. Mekanisme pembiayaan produksi benih hortikultura oleh Kementerian Pertanian dilakukan melalui APBNP TA, 2017.  permasalahan utama pada komoditas kentang, dalam produksi adalah ketersediaan benih yaitu mahalnya harga benih. Biaya penyediaan benih dalam satu siklus produksi kentang berkisar 50 – 55% dari total biaya produksi. Budidaya tanaman kentang di Indonesia saat ini masih menggunakan benih yang berasal dari sisa kentang konsumsi, calon benih dipilih berdasarkan ukuran umbi dengan kisaran 30 - 60 gram per umbi. Oleh karena itu, peningkatan mutu benih lokal sangat diperlukan untuk menghindari ketergantungan akan impor benih. Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas hortikultura unggulan di Indonesia yang menjadi sumber karbohidrat yang kaya protein, mineral, dan vitamin. Kentang merupakan salah satu jenis tanaman umbi yang dapat memproduksi makanan bergizi lebih banyak dan lebih cepat, namun membutuhkan hamparan lahan lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman pangan utama lainnya. Lebih dari 85% bagian tanaman dapat dimakan, dibandingkan dengan hanya sekitar 50% dari tanaman serealia. Kentang kaya akan karbohidrat sehingga merupakan bahan pangan yang baik untuk sumber enerji. Padabasis bobot segar, kentang memiliki kandungan protein tertinggi dibanding tanaman ubi-ubiandan umbi-umbian lainnya. Kandungan protein tersebut berkualitas tinggi karena dicirikan olehpola asam amino yang cocok dengan kebutuhan manusia. Sebutir kentang ukuran mediummengandung sekitar setengah vitamin C dan seperlima potasium dari rekomendasi serapanasupan harian. Jika dibandingkan dengan pangan utama padi, kentang ukuran sedang (173 gr)mengandung 160 kalori, vitamin C (30% RDA), kalsium (2% RDA) and zat besi (10% RDA),sedangkan padi (ekivalen 173 gr) hanya mengandung 169 kalori dan zat besi (1% RDA

13. Produksi Benih Sayuran

 
 

Dukungan Perbenihan Komoditas Petai di Jawa Barat

Petai (Parkia speciosa) merupakan buah asli Indonesia ini yang memiliki aroma bau khas seperti jengkol. Jika dikonsumsi, aroma baunya akan tinggal dimulut yang membuat tidak percaya diri. Namun, rasa baunya tidak menjadi masalah karena rasanya memang nikmat menjadi nafsu makan naik. Olahannya bisa menjadi lalaban atau dijadikan bahan baku masakan sehari-hari. Buah petai ini memiliki khasiat salah satunya untuk mengatasi penyakit kencing manis. Dilihat dari kebutuhan petai dipasaran memang sangat tinggi, karena keberadaannya sangat digemari masyarakat.  Namun demikian, pasar petai terbesar justru di Timur Tengah, Hongkong, dan Taiwan. Sebab di tiga kawasan inilah paling banyak terdapat perantau dari Indonesia, dan petai tidak dapat dibudidayakan di negeri tersebut. Petai yang dipasarkan dalam bentuk kalengan (caning), segar kupasan dalam stereofoam, maupun utuh (papan), tingkat ketuaannya harus seragam, dan tidak berulat di dalamnya.  Oleh karena itu, tanaman sangat prospektif untuk dijadikan lahan bisnis.

 

 
 

Dukungan Perbenihan Komoditas Jengkol di Jawa Barat

Jengkol (Pithecollobium jiringa) merupakan tanaman yang khas di wilayah tropis Asia Tenggara dan dapat ditemui di Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Thailand. Di Indonesia banyak ditemukan berbagai nama lain tanaman ini, seperti; Gayo: jering, Batak: jering, Karo Toba: joring, Minangkabau: jariang, Lampung dan  Dayak: jaring, Sunda: jengkol, Jawa: jingkol, Bali:blandingan, Sulawesi Utara: lubi (Heyne 1987). Buah jengkol digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai pendamping makanan pokok nasi yang dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai lalapan atau berbagai bentuk olahan lainnya. Walaupun digemari tetapi di sisi lain jengkol menyebabkan bau tidak sedap saat buang air kecil atau bau mulut setelah dikonsumsi atau setelah proses metabolisme tubuh. Selain baunya yang tidak sedap, jengkol juga dapat menyebabkan terjadinya jengkolan, yang disebabkan kandungan asam jengkolat (jengkolic acid) salah satu komponen yang terdapat pada biji jengkol yang bersifat sama dengan asam urat (uric acid)(Lestari et al. 2013).

 

14. Produksi Benih Buah Tropika dan Sub Tropika

 
 

Dukungan Perbenihan Benih Sebar Komoditas Mangga

Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah andalan pengembangan mangga di Indonesia yang memberikan kontribusi tertinggi kedua setelah Provinsi Jawa Timur. Lima jenis mangga utama yang dikembangkan di sentra mangga Jawa Barat yang meliputi kabupaten Majalengka, Cirebon dan Indramayu, adalah mangga harumanis, gedong, gedong gincu, dermayu dan golek. Diantara jenis mangga tersebut, gedong gincu merupakan jenis unggulan daerah yang mempunyai nilai kompetitif.

Varietas unggul merupakan faktor utama penunjang keberhasilan pengembangan mangga. Penelitian yang dilakukan belum mampu menghasilkan teknologi baru dan atau varietas unggul masih sangat terbatas sehingga varietas superior buah-buahan tropis yang dimiliki sangat langka.Varietas unggul buah-buahan di produksi dalam jumlah yang sedikit, tidak seperti pada benih jagung dan padi. Dalam satuah luas tanaman buah ditanam dengan jumlah yang sedikit karena jarak tanam yang besar disamping itu masa produktif yang lama, sehingga pihak swasta kurang tertarik untuk berinvestasi melakukan penelitian dan pengembangan tanaman buah-buahan.

Pemuliaan tanaman buah-buahan melalui seleksi genetik bertujuan untuk menghasilkan tanaman buah-buahan yang sesuai dengan tututan pasar. Penelitian tanaman buah memerlukan waktu yang lama, waktu yang diperlukan sampai bertahun-tahun agar hasil penelitian dapat diterapkan. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antara pemerintah, para peneliti dan industri pelaku agribisnis buah-buahan agar terjadi link antara hasil penelitian dengan kebutuhan pelaku agribisnis khusunya perbenihan.

 

 
 

Dukungan Perbenihan Benih Sebar Komoditas Jeruk

Benih jeruk bebas penyakit adalah benih jeruk yang terbebas dari patogen sistemik tertentu, memiliki sifat dan karakteristik yang sama seperti induknya serta dalam produksinya mengikuti tahapan dan proses produksi benih jeruk sehat. Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) perbenihan jeruk telah dikembangkan oleh Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika (Balitjestro) serta telah diberlakukan dan diadopsi secara nasional. Namun tidak sedikit pula penangkar benih jeruk yang dalam pelaksanaan perbenihan masih belum menerapkan SOP perbenihan jeruk yang telah dibuat sehingga menghasilkan benih jeruk yang memiliki kualitas rendah.

Untuk menghasilkan benih jeruk yang sehat, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan batang bawah jeruk sebagai media okulasi ataupun sambung batang pada perbenihan jeruk. Penyediaan batang bawah jeruk yang berkualitas menjadi sangat penting karena batang bawah akan sangat berpengaruh pada adaptasi benih jeruk pada lingkungan serta produktivitas tanaman jeruk. Produksi batang bawah jeruk harus berasal dari varietas jeruk yang sudah terbukti mampu beradaptasi dengan lingkungan terutama kondisi Indonesia yang memiliki berbagai agroekosistem. Beberapa varietas jeruk yang biasa digunakan sebagai batang bawah jeruk diantaranya yaitu JC da RL, kedua varietas jeruk ini telah terbukti mampu menjadi batang bawah jeruk yang adaptif terhadap berbagai agroekosistem di Indonesia.

 

 
 

Dukungan Perbenihan Benih Sebar Komoditas Manggis

Manggis (Garcinia mangostana  L) merupakan buah tropis unggulan dan kebanggaan nasional yang sangat potensial dan layak untuk dikembangkan dalam skala komersial serta sebagai andalan ekspor Indonesia.

Di Indonesia  tanaman manggis banyak dibudidayakan di lahan pekarangan dan hutan yang pengelolaannya kurang begitu diperhatikan. Manggis yang telah dilepas/didaftar oleh pemerintah sebanyak 14 varietas yaitu : Kaligesing, Wanayasa, Lingsar, Puspahiang, Malinau, Ratu Kamang, Ratu Tembilahan, Marel, Saburai, Raya, Sukarajo, Batu Kumbung, Lotan dan Idaman.

Penyebaran manggis hampir di seluruh wilayah Jawa Barat, namun yang merupakan daerah sentra adalah Kabupaten Bogor, Sukabumi, tasik, Puwakarta dan Subang, karena kondisi tanah dan iklim di daerah tersebut sangat sesuai untuk pengembangan manggis.

 

 
 

Dukungan Perbenihan Benih Sebar Komoditas Pepaya

Pepaya merupakan salah satu buah konsumsi segar utama di Indonesia. Konsumsi pepaya pada tahun 2005 mencapai 2,28 kg/kapita/tahun atau 7,24 % dari total konsumsi buah /kapita/tahun. Produksi pepaya pada tahun 2004 : 650 ribu ton meningkat 3,71 % dari tahun sebelumnya. Sekitar 90 % dari total produksi untuk konsumsi dalam negeri sisanya untuk ekspor. Volume ekspor buah pepaya Indonesia dari tahun 2002 – 2006 adalah 77,393 kg setara dengan US$ 203.606. Peran komoditas pepaya pada perekonomian nasional cukup besar, karena mempunyai potensi sebagai komoditas ekspor selain mangga, pisang dan nenas. Pepaya segar Indonesia mulai dilirik oleh negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur.  Produksi buah pepaya di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai 643.451 ton pada tahun 2006 (Departemen Pertanian, 2008). Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (2006) menyatakan usaha pengembangan pepaya   menguntungkan dengan  RC 1,25-1,56 . Sebagai investasi di tingkat petani, usaha pepaya layak untuk dikembangkan.

15. Produksi Benih Tanaman Industri Perkebunan

 
 

Dukungan Perbenihan Komoditas Kopi Robusta di Jawa Barat

Kebijakan pengembangan kopi nasional dilatar belakangi bahwa perkebunan kopi didominasi oleh perkebunan rakyat dan merupakan salah satu komoditas penting Indonesia sebagai penghasil devisa negara sehingga komoditas ini perlu dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkan produksi dan mutu kopi. Saat ini Indonesia menjadi produsen utama kopi ketiga setelah Brasil dan Vietnam. Kopi Indonesia tergolong dalam dua jenis kopi yaitu Kopi Arabika dan Kopi Robusta. Keunggulan Kopi Arabika adalah mempunyai cita rasa yang bersifat khas (specialty) sehingga pasarnya pun khusus.

Perluasan Kopi Robusta berada  pada daerah yang memenuhi syarat teknis pada ketinggian > 1.000 m d.p.l.  Kopi specialty merupakan kopi yang terbaik citarasanya dan mempunyai citarasa yang khas karena pasarnya khusus. Kopi specialty pasarnya jelas dan lebih mudah dijual serta harganya relatif mahal. Permasalahaan yang dihadapi dalam pengembangan kopi antara lain adalah karena tanaman ini 96% diusahakan oleh rakyat, maka teknik budidayanya belum sesuai dengan anjuran/good agriculture practice (GAP); produktivitas tanaman rendah karena munggunakan bibit asalan; lemahnya kelembagaan petani; value added yang diterima petani rendah karena sebagian yang diekspor dalam bentuk biji kopi, serta terbatasnya modal.