JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Program Utama

SL - PTT

Dengan peningkatan pemahaman dan penerapan teknologi PTT Padi Sawah, Padi Gogo dan Kedelai serta penerapan komponen teknologi spesifik wilayah maka diharapkan dapat meningkatkan produktifitas usaha tani dan palawija di Jawa Barat.

PUAP

Program PUAP merupakan salah satu upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat  melalui pengembangan usaha agribisnis perdesaan. Upaya pengembangan usaha agribisnis tersebut ditempuh melalui penguatan modal petani sebagai “entry point”.

Kegiatan pendampingan PUAP dilakukan di 25 kabupaten/kota, yaitu kabupaten: Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang, Bandung, Bandung Barat, Garut, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang,  Ciamis, Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Kota Depok, Kota Banjar, Kota Cimahi,  Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Bogor dan Kota Cirebon. Kabupaten/Kota  tersebut merupakan penerima Program PUAP tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012 dan 2013. Sampai dengan akhir tahun 2013, penerima dana BLM-PUAP di Jawa Barat mencapai 3.613 desa/gapoktan yang tersebar di wilayah kabupaten kota.

Laporan Akhir Tahun menyampaikan hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan di lapangan dan sebagai pertanggungjawaban penggunaan anggaran APBN 2013 selama kurun waktu 12 (dua belas) bulan. Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu diharapkanmasukan dan saran untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan pada waktu yang akan datang.

PSDS

Pelaksanaan kegiatan tanam padi sawah dengan menerapkan model percepatan tanam dilaksanakan di Desa Cidahu (Kelompok Tani Simanjangan 1), Cimara (Kelompok Tani Silega) dan Ciwiru Kelompok Tani Sabuk Halu) pada lahan milik petani. Penataan percepatan tanam dengan menanam varietas super genjah yaitu pada MH 2012/2013  (MT 1) menggunakan Varietas Inpari-7, Inpari-16, dan dan Inpari-20; sedangkan pada MK I 2013  (MT 2) menggunakan Varietas Inpari-18, Inpari-19, dan Inpari-20; serta pada MK II (MT 3) menggunakan Varietas Inpari-18 dan Inpari-20.

Inovasi teknologi model percepatan tanam pada MH 2012/2013 menggunakan varietas unggul baru berumur genjah yaitu di Desa Cidahu (8,63 ha) dan Ciwiru (2,66 ha) menggunakan Varietas Inpari-16 dan di Desa Cimara menggunakan Varietas Inpari-7  (2 ha) dan Inpari-20 (3 ha).

MP3MI

1. Telah terjadi penerapan inovasi teknologi model percepatan tanam  di wilayah luar lokasi pengkajian, yaitu pada MH 2012/2013 yaitu di Desa Cidahu (10 ha), Cimara (6 ha) dan Ciwiru (2,5 ha), dan pada MK I 2013 menyebar ke luar lokasi yaitu Kecamatan Pasawahan (25 ha), Pancalang (22 ha) dan Mandirancan (5 ha).

2. Dalam rangka peningkatan penyediaan benih kentang bermutu yang akan mendukung program strategis peningkatan produksi kentang telah dilakukan pengkajian model perbenihan kentang di Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut dengan melibatkan petani penangkar benih kentang di wilayah pengkajian melalui penerapan Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) penangkaran benih kentang yang telah dibuat.

3. Telah terjadi peningkatkan kinerja kelompok tani, Pemerintah Daerah, dan kelembagaan pendukung usahatani.

4. Telah dilakukan rintisan jaringan kerjasama antar kelembagaan agribisnis di lokasi pengkajian.

Kawasan Hortikultura

Inovasi teknologi hortikultura diimplementasikan secara partisipatif dalam suatu wilayah dengan menggunakan 5 pendekatan yaitu melalui pendekatan sumber daya alam (kesesuaian lahan agroklimat), sumber daya manusia, agribisnis, wilayah dan kelembagaan.  Penggunaan pendekatan agroekosistem berarti implementasi inovasi dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian kondisi bio-fisik lokasi yang meliputi aspek sumber daya lahan, air, wilayah komoditas, dan komoditas dominan. Pendekatan agribisnis diartikan bahwa impementasi inovasi teknologi hortikultura perlu memperhatikan struktur dan keterkaitan subsistem penyediaan input, usahatani, pascapanen, pemasaran, dan penaunjang dalam suatu sistem. Pendekatan wilyah diartikan bahwa penggunaan lahan untuk kegiatan usaha hortikultura mengacu pada suatu kawasan. Pemilihan inovasi yang akan diterapkan dalam suatu kawasan perlu mempertimbangkan risiko ekonomi akibat fluktuasi harga. Pendekatan kelembagaan berarti pelaksanaan model pengembangan inovasi tidak hanya memperhatikan keberadaan dan fungsi suatu organisasi ekonomi, namun juga mencakup modal sosial,norma dan aturan yang berlaku di lokasi.