JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penyakit Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah

PENDAHULUAN

Penyakit radang ambing atau yang dikenal sebagai mastitis merupakan masalah utama dalam peternakan sapi perah karena menyebabkan kerugian ekonomi mencapai Rp.10 juta/ekor/tahun akibat penurunan produksi susu, penurunan kualitas susu, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal serta pengafkiran dini sapi produktif. Selain kerugian ekonomis, penyakit mastitis secara tidak langsung dapat berdampak pada kesehatan manusia. Peningkatan kejadian penyakit mastitis, diikuti dengan peningkatan penggunaan antibiotika, yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan residu antibiotik dalam air susu dan potensi peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotika. Residu antibiotika dapat mengakibatkan masalah kesehatan bagi manusia yang serius.

APA ITU MASTITIS?

Mastitis adalah penyakit radang pada ambing bagian dalam yang di sebabkan mikroorganisme patogen atau bakteri penyebab mastitis di dalam kelenjar susu serta adanya reaksi peradangan pada jaringan ambing. Hasil metabolisme mikroba akan merusak dan mengganggu fungsi selsel alveoli. Mastitis menyerang sapi perah ada 2 macam, yaitu mastitis klinis dan subklinis (tandatanda mastitis tidak jelas). Mastitis sub klinis merupakan kasus yang paling banyak dan sering terjadi di lapangan pada peternakan sapi perah, dapat mencapai 95-98% dari jumlah sapi laktasi (produksi), sedangkan mastitis klinis, 2-5%.

KERUGIAN AKIBAT MASTITIS

Kerugian ekonomi yang diakibatkan mastitis subklinis berupa (1) Penurunan produksi air susu per kuartir per hari antara 9-45,5%; (2) Penurunan kualitas air susu yang mengakibatkan penolakan air susu mencapai 30-40%, penurunan kualitas hasil olahan air susu; dan (3) Peningkatan biaya perawatan dan pengobatan serta (4) Pengafkiran ternak lebih awal.

PENYEBAB MASTITIS

Berdasarkan hasil identifikasi di daerah sentra sapi perah di Jawa Barat, bakteri patogen penyebab mastitis adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus agalactiae. Penularan bakteri ini adalah masuk melalui puting dan kemudian berkembang biak di dalam kelenjar susu. Hal ini terjadi karena puting yang habis di perah, terbuka, kemudian kontak dengan lantai atau tangan pemerah mengandung bakteri.

Gambar 1. Proses masuknya bakteri

MEKANISME MASUKNYA BAKTERI

Bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus agalactiae masuk ke dalam puting. Setelah bakteri tersebut berhasil masuk ke dalam kelenjar, akan membentuk koloni, kemudian dalam waktu singkat akan menyebar ke lobuli dan alveoli. Pada saat mikroorganisme sampai di mukosa kelenjar, tubuh akan bereaksi dengan memobilisasikan leukosit. Proses radang ditandai dengan peningkatan suhu, jumlah darah yang mengalir, adanya perasaan sakit atau nyeri, bengkak, dan gangguan fungsi. Adanya peradangan tersebut maka produksi air susu akan menurun.

PROSES TERJADI MASTITIS SUBKLINIS

Proses mastitis hampir dimulai masuknya mikroorganisme ke dalam kelenjar melalui lubang puting (sphincter putting). Sphincter putting berfungsi untuk menahan infeksi

kuman. Pada dasarnya, kelenjar mammae sudah dilengkapi perangkat pertahanan,

sehingga air susu tetap steril. Perangkat pertahanan yang dimiliki oleh kelenjar mammae, antara lain : perangkat pertahanan mekanis (Gambar 2), seluler dan perangkat pertahanan yang tidak tersifat (nonspesifik). Tingkat pertahanan ambing mencapai titik terendah pada saat sesudah dilakukan pemerahan, karena spinchter putting masih terbuka sekitar 2-3 jam, sel darah putih jumlahnya sangat minim, sementara antibody dan enzim juga habis ikut terperah.

PENGOBATAN PENYAKIT MASTITIS SUBKLINIS

Sebelum menjalankan pengobatan, sebaiknya dilakukan uji sensitifitas. Resistensi Staphylococcus aureus terhadap penicillin disebabkan oleh adanya β- laktamase yang akan menguraikan cincin β- laktam yang ditemukan pada kelompok penicillin. Pengobatan mastitis sebaiknya menggunakan: Lincomycin, Erytromycin dan Chloramphenicol. Disinfeksi puting dengan alkohol dan infuse antibiotik intra mamaria bisa mengatasi mastitis. Injeksi kombinasi penicillin, dihydrostreptomycin, xamethasone dan antihistamin dianjurkan juga. Antibiotik akan menekan pertumbuhan bakteri penyebab mastitis, sedangkan dexamethasone dan antihistamin akan menurunkan peradangan. Waktu pengobatan bagi ambing yang radangnya tidak berat, dianjurkan untuk ditunda sampai sehabis laktasi, dengan pertimbangan agar air susunya tidak terhenti pengedarannya. Mastitis yang akut dapat diberikan pengobatan suntikan prokain penicilin G + dihidrostreptomycin 2 cc/100 kg berat badan setiap hari. Sulfamethazine 120 mg/kg berat badan per os melalui mulut, dianjurkan dengan 60 mg/ kg berat badan setiap 12 jam selama 4 hari. Untuk mastitis kronis dapat diberikan pengobatan yaitu diberikan penicilin mastitis ointment, chlortetracycline ointment, atau oxytetracycline mastitis ointment Daftar Pustaka Nurhayati, I., S dan E. Martindah. 015. Pengendalian Mastitis Subklinis melalui Pemberian Antibiotik Saat Periode Kering pada Sapi Perah.

Sumber : BPTP Jawa Barat