JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Inovasi Teknologi Pengendalian Getah Kuning Pada Buah Manggis

Hasil-hasil penelitian tentang getah kuning (gamboge disorder) pada buah manggis di Balitbu tropika (Mansyah, E et al, 2016) sudah banyak dilakukan dalam upaya pengendalian getah kuning yaitu melalui aplikasi pupuk sebagai perlakuan secara terpisah tidak berpengaruh terhadap presentase getah kuning pada kulit buah didalam buah, tetapi interaksi antara pengairan dan pemupukan  dapat menurunkan presentase getah kuning didalam buah.

Aplikasi  N, P, K and Ca yang dikombinasikan dengan Mg secara nyata meningkatkan presentase buah yang bebas getah kuning. Penelitian awal melaui pendekatan faktor genetik menggunakan SCAR (Sequence Characterized Amplified Region) marker menunjukan bahwa terdapat perbedaan genetik antara individu tanaman dengan presentase getah kuning tinggi dengan yang tak bergetah kuning.

Pemupukan manggis diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas buah manggis diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas buah manggis yang dihasilkan. Menurut Poerwanto (2004), pemupukan manggis dilakukan secara dua tahap, yaitu pemupukan untuk fase juvenil dan tanaman yang sudah menghasilkan buah. Pupuk yang diberikan kepada kepada tanaman terdiri dari pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik (urea, SP-36, dan KCI).

Tanaman manggis yang masih berumur 4-6 tahun sebaiknya diberikan pupuk urea 200 gram/pohon, sp-36 100 gram/pohon dan KCI 100 gram/pohon. Pupuk kandang juga diberikan dengan dosis 36 – 40 liter /pohon. Pemupukan pada tanaman manggis yang telah memasuki masa produktif (> 10 tahun) memiliki dosis sepuluh kali lebih besar dibandingkan tanaman pada masa juvenile. Dosis pupuk yang diberikan tersebut adalah 1000 gram urea/pohon, 2 500 gram SP-36 dan 1 500 gram KCI/pohon.

Hasil penelitian lainnya untuk mengendalikan penyakit getah bening pada tumbuhan manggis yang dapat dilakukan yaitu :

Penggunaan Irigasi Tetes dan Antitranspiran Chitosan (Rai, et al 2009). Perlakuan irigasi tetes air disekitar  pohon manggis hingga mencapai kapasitas lapang pada kondisi tanah kering dapat mengurangi getah kuning pada kulit luar dan daging buah hingga mencapai 84 persen dibandingkan tanpa irigasi tetes air.

Pemberian Antitranspiran Chitosan dapat menurunkan getah kuning pada kulit luar dan daging buah. Cara aplikasi melarutkan 1.5 – 3.0 gr serbuk Chitosan dalam 10 liter air diaduk rata, lalu disiramkan pada setiapa pohon manggis. Kelebihan antitranspiran Chitosan tidak mengganggu proses fotosintesis tumbuhan, hal ini tidak turunnya kandungan gula pereduksi, gula total, dan sukrosa.

Pengendalian Getah Kuning Manggis  Menggunakan Ekstrak Rumput Laut Dan Pemupukan Kalium. Pemberian pupuk kalium dicampur serbuk rumput laut dapat menekan perkembangan penyakit getah kuning manggis. Aplikasi pupuk kalium dan ekstrak rumput laut saat pohon mulai berbunga. Pemberian pupuk KCI dengan dosis 1.5 kg per pohon dikombinasi ditambahkan serbuk rumput laut 10 gr dalam 1 liter pupuk KCI dilakukan 2 minggu menjelang pembungaan ditanam sekeliling pohon kedalaman 10 cm di bawah kanopii daun terujung dan ditutup dengan tanah (Suada et al. 2015). Menurut Wulandari (2009) dalam penelitiannya bahwa aplikasi kalsium dosis 3.5 ton Ca2+/ha (17.5 ton/ha) berpengaruh nyata terhadap penurunan getah kuning pada kulit buah manggis.

Menurut Hardjowigeno (2003), ketersediaan unsure Ca (kalsium) dalam tanah dapat ditingkatkan dengan memebrikan pupuk atau kapur kalsium dengan waktu dan konsentrasi tertentu. Pupuk kalsium yang diberikan pada umumnya berasosiasi dengan unsur lain. Salah satu sumber unsure kalsium adalah dolomit (CaMg(CO3)2) yang mengandung MgO 18-22%, CaO 40% dan sedikit unsure Fe, Mn, dan P. Sumber lain yang juga biasa digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3)dan kapur bakar (CaO).

Sanitasi kebun dan Pemupukan Organik pada Tanaman Manggis. Kebun manggis dilakukan sanitasi kebun dengan cara membersihkan seresah daun kering dan ranting-ranting serta rumput gulma yang tinggi secara rutin pembakaran daun dan ranting kering dianjurkan guna dapat mengasapi pohon dilakukan secara rutin. Selain pembersihan kebun diberikan pupuk organik berupa kompos dan zat terangsang tumbuh organik.

Sumber : Ir. IGP. Alit Diratmaja, MP (Peneliti BPTP Jawa Barat)