JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Manfaat dan Kandungan Nutrisi Buah Naga

Buah naga  tidak hanya berfungsi   sebagai  buah,   akan tetapi  juga  dapat   berperan   sebagai  tanaman hias, sayuran, produk kesehatan dan obat-obatan. Oleh karena itu,  tanaman buah  naga  juga   disebut  “priceless treasure (harta tak ternilai). Ada juga yang menyebut buah naga ini sebagai fancy fruit atau buah mewah.

Berdasarkan hasil penelitian  serta  berbagai  informasi yang telah banyak dikemukakan, manfaat dari buah naga ini sangat banyak. Manfaat tersebut antara lain adalah sebagai penyeimbang kadar gula darah, membersihkan darah, menguatkan ginjal, menyehatkan lever, menguatkan daya kerja  otak,  meningkatkan ketajaman  mata,  mengurangi keluhan panas dalam dan sariawan, menstabilkan tekanan darah, mengurangi keluhan keputihan,  mengurangi kolesterol   dan   mencegah  kanker   usus,  memperlancar faces (BAB), serta  untuk  perawatan kecantikan.  Beberapa keistimewaan  keunggulan dan manfaat  buah  naga cukup banyak dikemukakan.

  1. Buah naga dapat digunakan sebagai bahan kosmetik dan kesehatan dengan fungsi  meningkatkan penglihatan dan mencegah hipertensi, meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah kanker.
  2. Buah naga  dapat  disajikan sebagai  sayur yang  lezat, memiliki gizi tinggi, segar,  kaya vitamin C. Suatu hasil riset  mengemukakan bahwa sulur buah naga  yang masih muda sangat  kaya akan gizi, dan  kandungan vitamin C.
  3. Disebut sebagai “Raja buah”, buah naga memiliki warna merah yang cerah dengan bentuk  menarik. Dagingnya berwarna   putih  atau  merah,  terasa  manis ,  dengan aroma  ringan. Tingkat  kemanisan    buah  naga  adalah 16-18 derajat briks, lebih baik dari  melon.
  4. Buah naga  dapat  sebagai  minuman,  dapat  disajikan dalam  jus buah  dan  salad  buah  atau  dibuat  menjadi selai. Buah ini juga dapat  dijus dan sebagai  campuran untuk membuat minuman yang sangat lezat.
  5. Perlindungan     lingkungan.    Buah    naga    menyerap C02 di malam hari dan melepaskan  oksigen untuk membersihkan udara.

Buah naga memiliki rasa yang yang enak, manis, kadang- kadang sedikit asam, dapat dikonsumsi sebagai buah segar, maupun diolah,  serta  sebagai  campuran   makanan  dan minuman  lainnya. Secara umum,  kandungan nutrisi dari buah naga adalah: Air 90,20% ,Karbohidrat 11,50%, Protein 0,53% ,Lemak  0,40%, Serat  0,71%, Calcium 6-10 mg/100g, Fosfor 8,70%, Vitamin C: 9,40%.  Untuk jenis yang berdaging buah  merah,  mengandung beta carotene yang  berfungsi sebagai  antioksidan.  Warna  merah  berasal  dari  pigmen alami yang dikenal sebagai  hylocerenin dan isohylocerenin dan juga    membuat berbagai  hidangan  berwarna  merah cantik ketika disajikan.

Sumber : Petunjuk Teknis Budidaya Buah Naga : BPTP Balitbangtan Jawa Barat, 2016

 

TEKNOLOGI OFF-SEASON PADA MANGGA GEDONG

Sesuai dengan arah Nawa Cita Presiden RI dan rencana pembangunan jangka menengah nasional dalam era pemerintahan 2014-2019, kementerian Pertanian mulai tahun 2015 berperan aktif dalam membangun dan mengembangkan taman Teknologi Pertanian (TTP) dan Taman Sains dan Teknologi Pertanian (TSTP). Kabupaten Cirebon sebagai salah satu lokasi TTP di Jawa Barat, pada tahun 2015 ini sudah membangun Central of Excelent (Pusat TTP) di Desa Windujaya.Cakupan TTP kabupaten Cirebon di Kecamatan Sedong yang terdiri dari 10 desa. Adapaun tujuan dibangunnya TTP ini adalah sebagai wahana penelitian, pengkajian,pengembangan dan penerapan inovasi, sekaligus show window dan tempat peningkatan kapasitas pelaku pembangunan pertanian termasuk penyuluh dan petani. Berdasarkan pemilihan komoditas unggulan, maka di lokasi TTP ini terpilih komoditas mangga gedong, padi dan ternak domba. Telah banyak teknologi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, namun dari segi pemanfaatannya oleh petani belum optimal. Maka dari itu perlu sebuah wahana yang dapat memfasilitasi aliran inovasi teknologi, dan sebagai salah satu wahana tersebut adalah TTP. Dalam rangka mendukung keberhasilan kegiatan ini, khususnya tentang pengembangan budidaya mangga Gedong, diperkenalkan teknologi off-season (berbuah di luar musim).

Perlakuan pendahuluan dengan melakukan pemupukan dengan dosis (tabel 1):

Pengkajian off-season mangga Gedong dilakukan di Desa Putat seluas 10 ha, dengan rata-rata umur tanaman 15 tahun.

Perlakuan pemupukan yang diberikan adalah sbb.:

Tabel 1.  Kebutuhan pupuk  tanaman mangga yang sudah berproduksi

Umur (Thn)

Pupuk organik

(bakul)

Urea (g)

SP-36 (g)

KCL (g)

5

2,5

450

300

450

6-8

3,5

500

350

600

>8

4,5

600

400

650

 

Bila menggunakan jenis pupuk majemuk dapat dikonversi menjadi sebagai berikut :

Tabel 2. Kebutuhan pupuk tanaman mangga yang sudah berproduksi menggunakan pupuk majemuk.

Umur (Thn)

Pupuk organik

(Bakul)

NPK Mutiara

(Kg)

NPK Phonska

(Kg)

Kaptan

(Kg)

>8

>4

1-2

2-4

5-10

>10

>4

3-4

4-5

5-10

 

Sumargono, et al. (2015)

Perlakuan pemberian pupuk kandang dan pupuk buatan diberikan pada musim penghujan, yaitu di bulan Oktober. Pupuk kandang dengan takaran 30-40 kg/pohon  diberikan dengan cara menggemburkan tanah terlebih dahulu, kemudian pupuk kandang dicampur dengan tanah di sekitar perakaran tanaman. Dua minggu setelah pemberian pupuk kandang, dilanjutkan dengan pemberian pupuk buatan dengan dosis sekitar 3,5 kg pupuk NPK Mutiara 16.16.16. Setelah 1 bulan berikutnya diberikan perlakuan paclobutrazol dosis 5 ml dilarutkan dalam 10 ml air, dengan cara disiramkan ke pangkal batang yang sudah sedikit dilukai. Hasilnya adalah sebagai berikut tanaman yang diberi perlakuan mulai terjadi pembungaan mulai bulan mei, Juni dan kebiasaan petani belum terlihat adanya pembungaan. Pada bulan Agustus mulai ada yang panen secara bertahap untuk tahap awal 4-5 kg, tahap berikutnya rata-rata 6-10 kg dan rata-rata total berbuah 50-60 kg. Pada saat berbuah di luar musim harga mangga Gedong rata-rata Rp.20.000,--Rp.25.000,-. Sedangkan tanaman mangga yang tanpa perlakuan ZPT (Paclobutrazol) baru berbunga Agustus –September dan panen dimulai bulan akhir Oktober, Nopember dan Desember. Harga rata-rata mangga Gedong saat panen raya adalah Rp. 7.500,-/kg. Perbedaan harga  yang mencolok ini yang mengakibatkan petani lebih tertarik memanfaatkan teknologi off-season. Keberhasilan off-season ini sangat dipengaruhi oleh musim, seperti  di tahun 2016 perlakuan off-season tidak berhasil karena adanya musim kemarau yang basah dan hampir sepanjang tahun tahun hujan, sehingga bunga yang terbentuk menjadi berguguran. Kemudian saat yang diperlakukan off season pada bulan Desember berbuah kembali mengikuti siklus panen raya.

Sumber : Drs. Agus Nurawan, MP (Peneliti BPTP Balitbangtan Jawa Barat)

 

APA ITU KEMIRI SUNAN ?? ?

Krisis energi yang melanda  dunia telah membangunkan kesadaran  banyak negara untuk memikirkan jalan keluar dalam mengatasi berkurangnya sumber energi yang semakin lama semakin berkurang akibat eksploitasi dan konsumsi yang semakin meningkat.  Harga BBM mengalami  fluktuasi yang cukup tajam sejak awal tahun  1970an.  Untuk mengatasi hal tersebut banyak negara mencari alternatif lain dalam pencairan  sumber energi yang sangat vital dan dibutuhkan tersebut.

Sehubungan dengan masalah diatas, maka harus ada pilihan yang mampu  mengatasi kedua masalah tersebut, yaitu mengatasai lahan kritissekaligusmenghijaukankembalisertadapatmenghasilkanenergi yang baru. Pemilihan jenis tanaman tersebut harus merupakan  titik temu antara kedua kepentingan tersebut, mempunyai nilai ekonomis sehingga  layak diproduksi  sekaligus aktifitasnya mempunyai  peran dalam pengembangan lingkungan  dan menggerakkan ekonomi kerakyatan  yang  bisa mengentaskan kemiskinan  masyarakat.  Saat ini pengembangan penanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) dan jarak kepyar (Ricinus communis  L.) sudah  banyak dikembangkan di berbagai  daerah di Indonesia, namun pemanfaatannya masih belum dapat mengatasi permasalahan krisis bahan bakar minyak. Indonesia yang  kaya akan  keanekaragaman hayati memiliki beberapa  jenis tumbuhan penghasil   sumber   energi  pengganti BBM yang  salah satunya adalah tanaman Kemiri Sunan.

Kemiri Sunan (Aleurites trisperma blanco) merupakan tumbuhan asli dari Philipina, namun  saat ini banyak tumbuh secara alami di Jawa Barat (Duke, 1983). Kemiri Sunan banyak dijumpai di Bandung, Sumedang, Majalengka, Garut dan Cirebon. Ditanam pertama  di Indonesia tahun  1927 Kondisi iklim yang optimal untuk 

pertumbuhannya adalah pada suhu 18,7–26,2oC, pH 5,4–7,1. Dapat hidup  pada  ketinggian  rendah  sampai menengah, di Jawa  Barat ditemukan hidup pada ketinggian lebih dari 1000 meter (Hyne, 1987). Berbeda dengan tumbuhan penghasil minyak lainnya. 

Kemiri Sunan berpeluang besar untuk dikembangkan karena beberapa keunggulan yang dipunyainya. Habitus tanaman berupa pohon berukuran sedang, mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan  dan mampu tumbuh  di   lahan   kering   iklim basah, dari dataran  rendah hingga 800  m  di  atas  permukaan  laut,

tingkat curah hujan 1000-2500 mm/tahun, perakarannya  yang kuat dan dalam mampu  bertahan pada  lahan berlereng  sehingga  dapat menahan erosi. Pohon ini memiliki tinggi 10-15 meter  dan berjenis kayu keras, tidak cocok untuk  bahan  pangan  karena mengandung racun  .  Hampir bisa dikatakan  tanaman ini belum  dibudidayakan secara intensif.

Kemiri sunan sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN). Potensi terbesar dari tanaman Kemiri Sunan ada pada buah yang terdiri dari biji dan cangkang (kulit). Pada biji terdapat inti biji dan kulit biji. Inti biji inilah yang nantinya dapat diproses menjadi minyak kemiri sunan dan digunakan sebagai sumber energi alternatif pengganti solar (biodiesel) melalui proses lebih lanjut. Inti dari buah  mampu  menghasilkan  minyak sebesar  56 % (Vassen

& Umali, 2001). Untuk mendapatkan minyak, inti biji harus diperah terlebih dahulu. Hasil dari perahan ini berupa minyak berwujud cairan bening  berwarna  kuning dan bungkil. Komposisi minyak terdiri dari asam palmitic 10 %, asam stearic 9 %, asam oleic 12 %, asam linoleic

19 % dan asam α-elaeostearic 51 %. Asam α-elaeostearic menjelaskan adanya  kandungan racun pada  minyak. Minyak Kemiri Sunan hasil perahan tersebut kemudian diproses lebih lanjut menjadi biodiesel

Dari pertanaman Kemiri Sunan setiap 1 ha bisa diperoleh 10 ton minyak kasar/tahun.  Hasil ini jauh lebih tinggi  dari kelapa  sawit yakni sekitar 6 ton/ha/tahun minyak kasar. Tentu hasil ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan  jarak  pagar. Hal ini dimungkinkan  karena rendemen dari biji kemiri sunan bisa mencapai   50  persen.   Dari  minyak kasar bisa diperoleh  88 persen  bio-diesel  dan  12 persen  Gliserol. Sehingga dapat disimpulkan kemiri sunan relatif cukup efisien sebagai bahan  baku bahan  bakar nabati. Penggunaan biodisel Kemiri Sunan daya tarik air pada mesin statis selama 3 jam, sedangkan jarak pagar hanya satu setengah jam dan solar 1 jam. Efisiensi panas pembakaran minyak cukup tinggi yakni 48-52 persen  hampir mendekati efisiensi kompor elpiji 56 persen. Disamping itu minyak kasar kemiri sunan bisa digunakan  untuk memproduksi sabun, briket, pupuk  organik, biopestisida,  cat, resin, pelumas, kampas, dll. Produksi buah kemiri sunan bisa mencapai  50 – 289 kg/pohon/tahun. Tanaman mulai berbuah sejak umur 5 tahun

Tanaman  Kemiri Sunan  sebagai  sumber  bahan  baku  bio-diesel kemiri sunan juga cocok digunakan sebagai tanaman konservasi. Hal ini didukung  dengan daunnya  yang lebat,  lebih dari 80.000 helai/ phn.  Sehingga  mampu  mengikat  CO2 dalam  jumlah  besar  untuk kemudian  menghasilkan  O2. Tanaman Kemiri Sunan juga memiliki perakaran  yang kuat dan dalam. Dalam 4 tahun  panjang  akar bisa mencapai  4 meter. Cocok ditanam di tanah kritis. Masa produktivitas Kemiri Sunan juga panjang, sampai 75 tahun. Bahkan, peneliti Badan Litbang Pertanian  memperkirakan  bisa sampai 100 tahun. Tanaman ini berbuah tidak  mengenal musim.  Ini  sungguh investasi  yang menjanjikan, karena kita cukup menanam satu kali dan hasilnya bisa dipanen sepanjang masa. Adanya kandungan zat racun yang terdapat pada  hampir seluruh bagian  tumbuhan ini sangat  menguntungkan karena jarang terserang  hama maupun diganggu oleh ternak. Dukungan Litbang Pertanian dalam Pengembangan Kemiri Sunan dengan menyediakan  bibit sekitar 15.000 bibit kemiri sunan varitas unggul  yang telah siap ditanam   untuk  luasan 100 ha. Diharapkan dapat  ditanam  di lahan  bekas  tambang   sesuai  dengan program kementerian ESDM 

Di Indonesia terdapat lahan-lahan  kritis yang luasnya mencapai

59,2 juta  hektar, sangat  berpeluang untuk  pengembangan Kemiri Sunan.  Pengembangan Kemiri Sunan  untuk  reboisasi  areal  bekas hutan,  tambang, maupun pada  tanah marjinal lainnya  disamping dapat  memperbaiki  struktur tanah,  juga dapat  membuka  lapangan kerja dan sentra-sentra agorindustri baru, meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah sehingga pada akhirnya dapat mengentaskan kemisikinan.  

Walaupun Kemiri Sunan merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai sifat-sifat yang sangat khas dan istimewa, namun hingga saat ini upaya budidayanya belum mendapat perhatian yang sungguh- sungguh baik dari pemerintah, pengusaha maupun oleh masyarakat / pihak-pihak yang terkait. Kendala lain tanaman Kemiri sunan  puncak berbuahnya pada umur sebelas tahun  dengan produktivitas  biji 50- 300  kg/ph/thn (sesuai  umur).  Sehingga  memerlukan   waktu  yang lama untuk  mendapatkan hasil namun  demikian  dapat ditanaman tanaman sela diantara  tanaman Kemiri Sunan  .  Sepertinya  petani akan bersemangat menanam apabila pemasarannya sudah jelas.  

Keunggulan  lainnya dari tanaman kemiri sunan  adalah  tingkat produktifitas dan rendemen minyak kasar yang tinggi, tidak bersaing dengan kebutuhan untuk pangan, biji dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Selain itu produk samping (byproduct) yang berupa kulit buah (husk), cangkang (Shell) dan bungkil (Cake) dapat diproses menjadi  pupuk organik  dan  biogas  (ISICRI,  2010). Namun  potensi tersebut belum banyak diketahui dan dimanfaatkan sehingga  perlu waktu  untuk  mensosialisasikan  dan  perlunya kesinkronisasian  dari para pengambil  kebijakan pembangunan pertanian.

Sumber: Ratima Sianipar, SP (Penyuluh BPTP Jawa Barat)

 

 


 

Penggunaan Biorational untuk mengendalikan penyakit Hawar daun Bakteri (HDB)untuk mendukung pertanian organik di Cianjur

Penyakit Hawar Daun Bakteri merupakan penyakit penting pada tanaman padi, kerugian yang ditimbulkan dapat berkisar antara 20-30%. Penyakit ini disebabkan oleh patogen bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit ini bisa ditularkan melalui air, alat atau ada vektor yang memindahkan dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Di Kampung Mareleng, Desa Cipeuyeum, Kecamatan Haurwangi Kabupaten Cianjur, telah dicoba menggunakan biorasional untuk menangulangi penyakit HDB tersebut. Lokasi ini merupakan lokasi pertanian padi organik seluas 7 ha sejak 7 tahun yang lalu. Pengendalian penyakit menggunakan fungisida kimiawi dapat menimbulkan efek sampingan berupa pencemaran lingkungan, timbulnya kekebalan terhadap organisme tertentu, dan harganya cukup mahal, sehingga petani tidak terjangkau untuk membelinya. Biorational pestisida, merupakan pestisida yang berasal dari alam yang mengandung substansi aktif seperti bakteri, cendawan, protozoa, feromon dan zat pengatur tumbuh. Biorational pestisida ini sangat minim pengaruhnnya terhadap manusia, lingkungan, dan organisme lain yang bermanfaat. Dalam biorational ini mengandung agensia hayati untuk mengendalikan HDB dan juga mengandung endofit Bacillus firmus untuk menambah stamina tanaman. Dalam pengkajian tersebut sama sekali tidak menggunakan pupuk anorganik maupun pestisida kimiawi. Pupuk yang digunakan hanyalah pupuk organik sebanyak 7 ton/ha. Biorational diaplikasikan pada umur 14, 28 dan 42 HST dengan dosis 2 gr/liter air, aplikasi 200 liter larutan semprot per ha. Hasil kajian sementara di Desa tersebut menunjukkan, bahwa penggunaan biorational dapat mencegah serangan penyakit HDB sampai dengan panen, disamping itu dapat meningkatkan produktivitas bila dibandingkan dengan cara petani organik lainnya. Produktivitas yang diaplikasi dengan Biorational adalah 7,45 ton/ha, sementara cara petani yang tanpa menggunakan biorational adalah 6,75 ton padi organik.

Sumber : Drs. Agus Nurawan, MP (Peneliti BPTP Jawa Barat)

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA WERENG BATANG COKLAT (WBC) DAN VIRUS KERDIL RUMPUT DAN KERDIL HAMPA

Hama wereng batang coklat (WBC) merupakan hama utama tanaman padi sehingga menjadi hama yang sangat ditakuti petani karena bisa mengakibatkan gagal panen (fuso).WBC merupakan hama r-strategis;  menghisap cairan batang tumbuhan padi, dapat berkembang biak dengan cepat, dan cepat menemukan habitatnya serta mudah beradaptasi dengan membentuk biotipe baru. Selain itu, hama ini menularkan juga penyakit virus kerdil hampa (VKH),  virus kerdil rumput tipe 1 (VKRT-I) dan virus kerdil rumput tipe 2 (VKRT-2). Pada saat vegetatif VKH menyebabkan daun rombeng, tercabik, koyak, atau bergerigi, terkadang berwarna putih.  tumbuh kerdil dengan tinggi 23,8-66,9% tertekan, keluar malai diperpanjang sampai 10 hari. Saat keluar malai tidak normal  (tidak keluar penuh), daun bendera terjadi distorsi. Saat pematangan buah tidak mengisi  dan menjadi hampa.

Pada tahun 2017, intensitas serangan hama WBC, virus kerdil rumput, virus kerdil hampa di Jawa Barat sangat tinggi terutama di wilayah pantai utara (Kabupaten Subang, Indramayu, dan Cirebon). Akibat gangguan WBC tersebut banyak petani yang hanya panen sekitar 20-40% atau sekitar 0,6-1,0 t/ha bahkan ada yang tidak bisa panen.

 

Perkembangbiakan WBC

WBC berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah dan tulang daun.Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.Satu ekor betina mampu meletakkan telur 100-500 butir.Telur menetas setelah 7-10 hari.Muncul wereng muda yang disebut nimfa dengan masa hidup 12-15 hari dan setelah fase ini menjadi wereng dewasa.Dalam perkembangan hidupnya, wereng batang coklat mempunyai tiga stadium pertumbuhan yaitu stadium telur, nimfa dan dewasa.

Nimfa mengalami lima instar, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan periode nimfa adalah 12.82 hari. Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng batang coklat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal. Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng batang coklat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter.

Pada daerah lain stadium telur membutuhkan waktu antara 7-11 hari. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan dan berangsur menjadi coklat. Stadium nimfa terjadi 5 kali pergantian kulit dan waktu yang dibutuhkan pada masing-masing instar adalah 2-4 hari (lihat gambar 2) Wereng batang coklat dewasa mempunyai dua bentuk, sayap panjang (makroptera) dan sayap pendek (brakiptera). Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakiptera populasi penetap.Suhu optimum untuk perkembangan antara 18-280C.

 

Serangan WBC tanaman Padi

Hama WBC yang berkembang pada tanaman padi ketika membentuk anakan dimulai oleh wereng bersayap panjang yang berpindah dari tempat lain. Jika wereng yang berkembang pada tanaman padi yang berumur 2 atau 3 minggu setelah tanam, maka WBC bisa berkembang biak menjadi dua generasi (Gb.1). Tetapi bila wereng yang menyerang tanaman padi yang

berumur 5-6 minggu setelah tanam, wereng yang berkembang biak hanya satu generasi yang puncak populasinya terjadi pada padi umur 9-10 minggu setelah tanam.

Pengamatan hama wereng harus dilakukan secara intensif dan rutin. Jangka waktu pengamatan minimal 3 hari sekali dan jika ada gejala muncul wereng segera dihitung populasinya.Jika populasi per rumpun 7-9 segera diatasi dengan pengendalian pestisida baik secara hayati maupun kimiawi.

 

Strategi Pengendalian WBC dan Virus Kerdil

  1. Pengendalian WBC
  2. Tanam Padi Secara Serentak

Tanam padi secara serentak dalam areal yang luas tidak dibatasi oleh batas administrasi.  Wereng coklat imigran terbang bermigrasi tidak dapat dihalangi oleh sungai atau lautan.  Bila suatu daerah panen atau puso maka wereng makroptera (bersayap panjang) akan terbang bermigrasi mencari tanaman muda dalam populasi tinggi, hinggap  (landing) dan berkembang biak pada tanaman padi muda.  Bila areal tempat migrasi sempit, maka populasi imigran akan padat.

  1. Penggunaan Varietas Tahan

Penggunaan varietas tahan disesuaikan dengan keberadaan biotipe wereng coklat yang ada di lapangan. Saat ini, biotipe wereng coklat yang berkembang di lapang didominasi oleh biotipe 3 dan dibeberapa tempat telah ada biotipe 4 sehingga memerlukan varietas unggul baru (VUB) yang memiliki ketahanan terhadap biotipe tersebut. Badan Litbang Pertanian telah menyediakan beberapa VUB yang tahan terhadap biotipe tersebut, yaitu Inpari 13, Inpari 31 dan Inpari 33.

  1. Perangkap Lampu (Light traps)

Wereng yang pertama kali datang dipesemaian atau pertanaman adalah wereng makroptera betina/jantan imigran.  Pasang lampu perangkap (Gb.2) sebagai alat untuk menentukan kapan datangnya wereng imigran.  Alat ini penting untuk mengetahui kehadiran wereng imigran dan dapat menangkap wereng dalam jumlah besar. 

Lampu perangkap dipasang pada ketinggian 150-250 cm dari permukaan tanah.Hasil tangkapan dengan lampu 100 watt dapat mencapai 400.000 ekor/malam.  Keputusan yang diambil setelah ada wereng pada perangkap lampu:   

  • Wereng-wereng yang tertangkap dikubur 
  • Keringkan pertanaman padi sampai retak
  • Segera setelah dikeringkan, kendalikan wereng pada tanaman padi dengan insektisida yang direkomendasi

  1. Waktu Pesemaian  Padi

Penetapan waktu pesemaian ditentukan oleh kapan puncak wereng imigran yang tertangkap lampu perangkap.  Bila datangnya wereng imigran tidak tumpang tindih antara generasi maka  pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran. 

Bila datangnya wereng dari generasi yang tumpang tindih, maka akan terjadi bimodal (dua puncak). Pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran ke-2.

  1. Tuntaskan Pengendalian Pada Generasi 1

Catat waktu puncak populasi imigran awal sebagai generasi nol (G0), maka pada 25-30 hari kemudian  akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-1, pda 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-2, pada 25-30 hari kemudian  akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-3.

Pengendalian wereng yang baik yaitu:

  • Pada saat ada imigran makroptera generasi nol (G0) dan saat generasi ke 1 (G1) yaitu nimfa-nimfa yang muncul dari wereng imigran
  • Gunakan insektisida dengan bahan aktif, pymetrozine, dinotefuran, sebaiknya satu jenis insektisida tidak digunakan terus menerus dalam jangka waktu lama.
  • Pengendalian wereng harus selesai pada generasi ke 1 atau paling lambat pada generasi ke 2.
  • Pengendalian saat generasi ke 3 tidak akan berhasil.
  1. Pengamatan Wereng Coklat di Pertanaman

Pengamatan atau Monitoring wereng coklat  pada 1-2 minggu sekali. Ambil  contoh 20 rumpun arah diagonal.  Hitung jumlah wereng coklat pada minggu ke- i (Ai) dan musuh alami laba-laba + Paederus +Ophionea+Coccinella pada minggu ke-i (Bi) dan Cyrtorhinus pada minggu ke-i (Ci).

  1. Penggunaan Insektisida

Penggunaan insektisida harus memperhatikan berbagai factor, antara lain:

  • Keringkan area sawah sebelum aplikasi insektisida baik yang semprotan atau butiran
  • Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai pada batang padi.
  • Tepat dosis dan jenisnya yaitu yang berbahan aktif Pymetrozine, dinotefuran.
  1. Pengendalian Double Cover

Bila insektisida semprotan yang digunakan tidak atau kurang manjur maka pengendalian wereng coklat perlu didobel dengan memberikan insektisida sistemik melalui akar.

 

  1. Pengendalian Penyakit Virus Kerdil

Sampai saat ini tidak ada virusida atau bahan lain yang dapat dipakai untuk mengendalian penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput (Gb3).  Usaha yang dapat dilakukan adalah:

  1. Kendalikan wereng coklat terutama makroptera/bersayap sampai populasi serendah mungkin
  2. Hindari kontak inokulum penyakit dengan wereng coklat
  3. Cabut dan benamkan inokulum penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput

Ciri-ciri tanaman yang terserang virus kerdil rumput (3a), kerdil hampa (3b) dan campuran virus kerdil rumput dan virus kerdil hampa (3c)

Subcategories