JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Seminar/Lokakarya

Kegiatan panen yang dilakukan di kecamatan Cigasong. Lahan sawah yang dipanen merupakan lokasi penangkaran benih padi dengan menggunakan system tanam jajar legowo 2:1. Varietas yang ditanam di lokasi tersebut ialah Bestari dan Inpari 7.

Kegiatan panen dilakukan bersama-sama dengan Bupati Kab. Majalengka, Ka. Dinas Pertanian, Ka. BP4K, Kapolres, Ketua DPRD, Ka. BPS, Dandim, Ka. BPTP, serta Camat Kec. Cigasong. Pada acara tersebut, Ka. BPTP Jabar dalam sambutannya, berkesempatan untuk menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Kab. Majalengka yang telah berkerja dengan giat untuk meningkatkan luas tanam dan produktivitas. Sedangkan Bapak Bupati dalam arahannya, menyampaikan bahwa pemerintah telah memberikan banyak perhatian kepada petani dengan memberikan banyak sarana dan  prasarana. Untuk itu, beliau mengharapkan agar bantuan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan produktivitas. Setelah memberikan arahan, Bapak Bupati selanjutnya menyerahkan secara simbolis bantuan sarana dan prasarana bagi kelompok tani pada kegiatan GP-PTT Kedelai, PAT Jagung, PAT Kedelai. Selain itu, Bapak Bupati juga menyerahkan rekomendasi teknologi dalam bentuk publikasi yang berasal dari BPTP Jabar kepada Kelompok tani.

Selain, melakukan panen bersama Bupati Majalengka, perjalanan dinas dilakukan untuk memantau perkembangan kegiatan UPSUS PAJALE. Berdasarkan koordinasi dengan Dinas Pertanian, diketahui bahwa realisasi tanam yang telah dilakukan oleh Kab. Majalengka selama Okt-Mar ialah seluas 67.116 ha. Dari realisasi tersebut, terdapat surplus dari target tanam Okt-Mar sebesar 8.024 ha. Untuk komoditas jagung realisasi tanam seluas 11.225 ha dari target seluas 10.821 ha. Sehingga terjadi surplus luas tanam sebesar 404 ha.

Penandatanganan perjanjian kerjasama antara Dandim 0604  Karawang dengan BP4K dan Distanhutbun Karawang yang disaksikan oleh Plt Bupati, Kapolres, Kepala Kejari dan Ketua DPRD Karawang.

Dalam sambutannya Plt Bupati menyampaikan terima kasih atas support dari pihak TNI dalam pemenuhan target swasembada pangan, salah satu janji bupati adalah mempertahankan 87 ribu hektar lahan produktif untuk tidak beralih fungsi atau dialihfungsikan, Bupati menyampaikan juga agar para petugas penyuluh lebih giat dalam bekerja dan bekerjasama berdampingan secara kondusif dengan pihak babinsa dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

Dandim 0604 Karawang menyampaikan pula bahwa dalam pelaksanaan tugas ini, pihak TNI bertugas sebagai pendamping terutama dalam pelaksanaan pembinaan petani dengan petugas penyuluh pertanian, sehingga tidak akan terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

Diharapkan terjadi sinergisme dalam pelaksanaan tugas sehingga dapat mencapai target swasembada pangan yang telah dicanangkan oleh presiden.

 

 

 

Workshop merupakan salah satu media dalam diseminasi teknologi informasi.  Workshop Percepatan penerapan teknologi tebu terpadu mendukung swasembada gula nasional bertujuan untuk menyampaikan hasil kegiatan pendampingan swasembada gula melalui Percepatan Penerapan Teknologi Budidaya Tebu Terpadu di Jawa Barat.  Workshop dilakukan dalam bentuk pertemuan/brainstroming (curah pendapat) dan diskusi dengan pengguna antara/akhir, pengambil kebijakan dan stakeholder.  Workshop P2T3 dilaksanakan pada 11-12 Nopember 2014 di aula BP4K Kabupaten Majalengka.  Workshop dihadiri Dinas Perkebunan Prov. Jabar, Sekretariat Bakorluh Prov. Jabar,  Dinas Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kab. Majalengka, Dinas Kehutanan dan Perkebunan  Kab. Subang, Dinas Kehutanan dan Perkebunan  Kab. Indramayu, Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Kab. Cirebon, BP4K Kab. Majalengka, BP4KKP Kab. Subang, BKP3 Kab. Indramayu, BKP5K Kab. Cirebon, BPTP Jawa Barat, dan Petani Tebu Kab. Majalengka.

Workshop ini dibuka oleh Sekretariat Bakorluh Jabar dan Kepala BPTP Jabar.  Pada kesempatan ini disampaikan bahwa komoditas tebu di Jawa Barat memang memerlukan penanganan yang intensif karena luas tanam tebu di Jawa Barat lebih kecil dibandingkan dengan provinsi lain.  Selain itu, sangat sulit untuk melakukan perluasan tanam areal tebu karena berbagai aspek dan kendala.  Kepala BPTP Jawa Barat mengemukakan bahwa workshop ini sebagai ajang untuk penyebarluasan teknologi tebu dan sebagai salah satu tugas BPTP untuk menyebarluaskan informasi teknologi tebu khususnya yang dimiliki oleh Badan Litbang Pertanian.

Pada kegiatan workshop  ini tampil beberapa pemakalah dari Sekretariat Bakorluh Prov. Jabar,  Dinas Perkebunan Prov. Jabar, Dinas Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kab. Majalengka dan BPTP Jabar. Hasil dari workshop ini diperoleh beberapa rumusan yaitu:

  1. Upaya pencapaian swasembada gula perlu didukung Upaya Kementerian Pertanian mensukseskan pencapaian target swasembada gula untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula yang bersumber dari areal tebu di dalam negeri.
  2. Estimasi kebutuhan gula nasional pada tahun 2014 sebesar 3,2 juta ton gula Gula Kristal Putih (GKP) dan program P2T3 diharapkan dapat mendukung keberhasilan pencapaian target tersebut.
  3. Indikasi meningkatnya alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya produksi gula di Jawa Barat maka inovasi teknologi mejadi salah satu solusi untuk pencapaian target swasembada gula.
  4. Kegiatan yang sudah dan sedang dilaksanakan difokuskan pada upaya peningkatan produktivitas, rendemen tebu, perawatan ratoon dan bongkar ratoon, penguatan kapasitas kelembagaan serta pendampingan penerapan teknologi budidaya tebu.
  5. Penggunaan varietas unggul tebu, penerapan cara tanam juring ganda dan pemberian pupuk organik telah terbukti berkontribusi nyata terhadap peningkatan produktivitas dan rendemen gula.
  6. Varietas PS 864, PSJT 941 dan Bulu Lawang memiliki hasil tebu tertinggi masing-masing sebanyak  96,86 ton/ha, 93,24 ton/ha dan 91,27 ton/ha, lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya.
  7. Penerapan sistem tanam juring ganda dengan jarak antarbaris 50 cm dan jarak antarjuring 135 cm dapat meningkatkan produksi hingga lebih dari 30 persen.
  8. Inovasi teknologi spesifik lokasi hasil-hasil penelitian dan pengkajian lembaga-lembaga terkait perlu diinformasikan/disebarluaskan kepada pengguna, khususnya para petani tebu. Peranan aspek penyuluhan   sangat penting dan perlu didukung SDM Penyuluh/PPL yang memadai sehingga teknologi lebih cepat diadopsi oleh petani.
  9. Keterpaduan dan keterlibatan serta dukungan dari berbagai pihak/instansi terkait dapat mempercepat keberhasilan program Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu (P2T3) mendukung swasembada gula dan dapat dirasakan manfaatnya oleh petani tebu.
  10. Upaya-upaya yang dilakukan tidak hanya terbatas pada aspek teknis saja, perlu diupayakan solusi untuk memecahkan masalah terkait aspek non teknisnya yang seringkali merugikan dan tidak mampu diatasi oleh petani tebu.
  11. Masalah non teknis terkait rendemen tebu di Pabrik Gula masih menjadi salah satu  kendala yang perlu mendapat perhatian khusus dan perlu segera ditemukan jalan keluarnya.
  12. kelembagaan kelompok tani tebu akan diatur khusus kemudian.
  13. Lahan-lahan marginal/tidur perlu dimanfaatkan untuk perluasan areal tebu dengan penerapan teknologi terpadu.

 

 

Peserta dalam penandatangan MoU antara Bupati dan Kodim 0620 di Kabupaten Cirebon berjumlah -+ 110 orang yang terdiri dari  21 unsur antara lain dari unsur Ketua DPR, Kapolres, Danyon Arhanudse-14, Brimob, Danlanal, Kepala Kejaksaan, Pengadilan, Kepala BKP5K, Kadis PSDA, Kepala Disperindag, Camat, Danramil, UPT wilayah Distanbunnakhut, Kepala BP3K, Kordinator Penyuluh Kabupaten, Kordinator POPT, HKTI, KTNA, BPTP JABAR, PT. Pupuk Kujang dan PT. Pupuk Petrokimia

Sambutan Komandan Resor Militer (Danrem) 063/SGJ Wilayah Cirebon para anggota TNI agar bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan produksi pangan dan memanfaatkan lahan tidur untuk ditanami padi, jagung dan kedelai untuk secara teknis di lapangan silahkan bersinergi dengan para penyuluh lapangan.

Sambutan Bupati bahwa para Kepala Dinas lingkup pertanian, penyuluhan, Camat se Kabupaten Cirebon dan Danramil serta anggota TNI se Kodim Cirebon agar mengawal produksi pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai, pengawalan jaringan irigasi, distribusi benih, pupuk dan mengantisipasi adanya perubahan iklim. Target Provitas Kabupaten Cirebon tahun 2015, 6,9 ton/ha pada tahun 2014 baru mencapai 6,33 ton/ha, sehingga kita masih perlu bekerja keras untuk mewujudkan produksi pangan di Kabupaten Cirebon.

 

 

 

Peserta dalam penandatangan MoU antara Bupati dan Kodim 0620 di Kabupaten Cirebon berjumlah -+ 110 orang yang terdiri dari 21 unsur antara lain dari unsur Ketua DPR, Kapolres, Danyon Arhanudse-14, Brimob, Danlanal, Kepala Kejaksaan, Pengadilan, Kepala BKP5K, Kadis PSDA, Kepala Disperindag, Camat, Danramil, UPT wilayah Distanbunnakhut, Kepala BP3K, Kordinator Penyuluh Kabupaten, Kordinator POPT, HKTI, KTNA, BPTP JABAR, PT. Pupuk Kujang dan PT. Pupuk Petrokimia

Sambutan Komandan Resor Militer (Danrem) 063/SGJ Wilayah Cirebon para anggota TNI agar bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan produksi pangan dan memanfaatkan lahan tidur untuk ditanami padi, jagung dan kedelai untuk secara teknis di lapangan silahkan bersinergi dengan para penyuluh lapangan.

Sambutan Bupati bahwa para Kepala Dinas lingkup pertanian, penyuluhan, Camat se Kabupaten Cirebon dan Danramil serta anggota TNI se Kodim Cirebon agar mengawal produksi pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai, pengawalan jaringan irigasi, distribusi benih, pupuk dan mengantisipasi adanya perubahan iklim. Target Provitas Kabupaten Cirebon tahun 2015, 6,9 ton/ha pada tahun 2014 baru mencapai 6,33 ton/ha, sehingga kita masih perlu bekerja keras untuk mewujudkan produksi pangan di Kabupaten Cirebon.

Workshop merupakan salah satu media dalam diseminasi teknologi informasi.  Workshop Percepatan penerapan teknologi tebu terpadu mendukung swasembada gula nasional bertujuan untuk menyampaikan hasil kegiatan pendampingan swasembada gula melalui Percepatan Penerapan Teknologi Budidaya Tebu Terpadu di Jawa Barat.  Workshop dilakukan dalam bentuk pertemuan/brainstroming (curah pendapat) dan diskusi dengan pengguna antara/akhir, pengambil kebijakan dan stakeholder.  Workshop P2T3 dilaksanakan pada 11-12 Nopember 2014 di aula BP4K Kabupaten Majalengka.  Workshop dihadiri Dinas Perkebunan Prov. Jabar, Sekretariat Bakorluh Prov. Jabar,  Dinas Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kab. Majalengka, Dinas Kehutanan dan Perkebunan  Kab. Subang, Dinas Kehutanan dan Perkebunan  Kab. Indramayu, Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Kab. Cirebon, BP4K Kab. Majalengka, BP4KKP Kab. Subang, BKP3 Kab. Indramayu, BKP5K Kab. Cirebon, BPTP Jawa Barat, dan Petani Tebu Kab. Majalengka.

Workshop ini dibuka oleh Sekretariat Bakorluh Jabar dan Kepala BPTP Jabar.  Pada kesempatan ini disampaikan bahwa komoditas tebu di Jawa Barat memang memerlukan penanganan yang intensif karena luas tanam tebu di Jawa Barat lebih kecil dibandingkan dengan provinsi lain.  Selain itu, sangat sulit untuk melakukan perluasan tanam areal tebu karena berbagai aspek dan kendala.  Kepala BPTP Jawa Barat mengemukakan bahwa workshop ini sebagai ajang untuk penyebarluasan teknologi tebu dan sebagai salah satu tugas BPTP untuk menyebarluaskan informasi teknologi tebu khususnya yang dimiliki oleh Badan Litbang Pertanian.

Pada kegiatan workshop  ini tampil beberapa pemakalah dari Sekretariat Bakorluh Prov. Jabar,  Dinas Perkebunan Prov. Jabar, Dinas Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kab. Majalengka dan BPTP Jabar. Hasil dari workshop ini diperoleh beberapa rumusan yaitu:

  1. Upaya pencapaian swasembada gula perlu didukung Upaya Kementerian Pertanian mensukseskan pencapaian target swasembada gula untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula yang bersumber dari areal tebu di dalam negeri.
  2. Estimasi kebutuhan gula nasional pada tahun 2014 sebesar 3,2 juta ton gula Gula Kristal Putih (GKP) dan program P2T3 diharapkan dapat mendukung keberhasilan pencapaian target tersebut.
  3. Indikasi meningkatnya alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya produksi gula di Jawa Barat maka inovasi teknologi mejadi salah satu solusi untuk pencapaian target swasembada gula.
  4. Kegiatan yang sudah dan sedang dilaksanakan difokuskan pada upaya peningkatan produktivitas, rendemen tebu, perawatan ratoon dan bongkar ratoon, penguatan kapasitas kelembagaan serta pendampingan penerapan teknologi budidaya tebu.
  5. Penggunaan varietas unggul tebu, penerapan cara tanam juring ganda dan pemberian pupuk organik telah terbukti berkontribusi nyata terhadap peningkatan produktivitas dan rendemen gula.
  6. Varietas PS 864, PSJT 941 dan Bulu Lawang memiliki hasil tebu tertinggi masing-masing sebanyak  96,86 ton/ha, 93,24 ton/ha dan 91,27 ton/ha, lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya.
  7. Penerapan sistem tanam juring ganda dengan jarak antarbaris 50 cm dan jarak antarjuring 135 cm dapat meningkatkan produksi hingga lebih dari 30 persen.
  8. Inovasi teknologi spesifik lokasi hasil-hasil penelitian dan pengkajian lembaga-lembaga terkait perlu diinformasikan/disebarluaskan kepada pengguna, khususnya para petani tebu. Peranan aspek penyuluhan   sangat penting dan perlu didukung SDM Penyuluh/PPL yang memadai sehingga teknologi lebih cepat diadopsi oleh petani.
  9. Keterpaduan dan keterlibatan serta dukungan dari berbagai pihak/instansi terkait dapat mempercepat keberhasilan program Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu (P2T3) mendukung swasembada gula dan dapat dirasakan manfaatnya oleh petani tebu.
  10. Upaya-upaya yang dilakukan tidak hanya terbatas pada aspek teknis saja, perlu diupayakan solusi untuk memecahkan masalah terkait aspek non teknisnya yang seringkali merugikan dan tidak mampu diatasi oleh petani tebu.
  11. Masalah non teknis terkait rendemen tebu di Pabrik Gula masih menjadi salah satu  kendala yang perlu mendapat perhatian khusus dan perlu segera ditemukan jalan keluarnya.
  12. kelembagaan kelompok tani tebu akan diatur khusus kemudian.

Lahan-lahan marginal/tidur perlu dimanfaatkan untuk perluasan areal tebu dengan penerapan teknologi terpadu.