JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Petani Bawang Merah di Pabedilan, Kab. Cirebon Bisa Tersenyum Berkat Teknologi Balitbangtan

Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang dapat mempengaruhi inflasi di Indonesia, karena bawang merupakan komoditas yang sangat strategis dan sudah menjadi kebutuhan utama di masyarakat.

BPTP Jawa Barat melakukan kegiatan Kaji Terap Teknologi Budidaya Bawang Merah yang Ramah Lingkungan yang berlokasi di Kelompok Tani Cukang Akar, Desa Silih Asih, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon. Kaji terap ini menggunakan varietas Balitbangtan Bima Brebes seluas 2 hektar. Komponen teknologi yang digunakan adalah Feromon-exi dan Yellow Trap/perangkap kuning. Selain itu ada juga penggunaan pupuk berimbang, ppk kandang organik 3 ton, NPK Mutiara 25 .7.7 500 kg, TSP 100 kg dan Kcl 60 kg.(7 hari seb tanam), 10-hst 180 kg urea dan 30 hst urea 180 kg.Kaji terap ini mendapat respon yang baik dari masyarakat sehingga ada yang berpartisipasi secara swadaya seluas 60 ha.

Praktek penggunaan Feromon exi untuk merankap gengat jantan telah terbukti dapat membantu mengurangi biaya produksi petani. Pada umumnya kebiasaan petani bawang merah di daerah pantura melakukan menyemprot pestisida sebanyak 29 s/d 30 kali dalam satu musim tanam. Sementara itu, pada kaji terap ini telah terbukti hanya cukup 10 Kali penyeprotan pestisida. Hal ini karena penggunaan Feromon-exi dan Yellow Trap cukup efektif dapat sebagai perangkap ngegat sehingga serangan ulat bawang merah dapat ditekan. Efisiensi yang di peroleh apabila di konversikan rupiah nilainya setara 30 juta rupiah per hektar.

Dr. Liferdi Lukman selaku Kepala BPTP Balitbangtan Jawa Barat menyampaikan bahwa hasil penelitian yang dilakukan Balitbangtan pertanian menemukan bahwa penggunan pestisida dan pupuk oleh petani bawang di daerah pantura ini melebihi rata-rata dua kali bahkan lebih dari pada yang dibutuhkan. Karena biaya produksi tinggi maka petani slalu merugi. Tahun 2017 yang lalu petani sempat demo ke kantor Bupati karena rugi. Biaya produksi 150 juta/ha, sementara hasil penjualan panen hanya 60 juta. Bahkan yg lebih ekstrim tdk hanya rugi tp meninggal karena keracunan pestisida.

Tapi tdk demikian hal nya pada saat panen sekarang setelah menerapkan teknologi Balitbangtan. Petani bisa tersenyum, karena biaya produksi bisa di hemat 30 juta rupiah/ha dan produktivitas kebiasaan petani 11 ton sedangkan hasil kaji terap 15 ton/ha. Beliau jg menyampaikan mudah-mudahan teknologi budidaya ramah lingkungan dari BPTP Balitbangtan Jawa Barat ini dapat membantu petani bawang merah semakin sejahtera tegasnya. Minimal dari efisiensi dan peningkatan produksi jika harga Rp 14.000/ kg maka keuntungan sudah Rp 100.000/ha.

Haji Kadrah selaku Ketua Kelompok Tani Bawang Merah Cukang Akar menyampaikan bahwa kelompok taninya telah merasakan keuntungan dari penggunaan teknologi budidaya bawang ramah lingkungan dari BPTP Jawa Barat ini. Lebih lanjut kebiasaan petani panen hanya 10 hingga 11 ton/ha, tp skg mencapai 15 ton/hektar. Begitu juga penggunaan pestisida biasanya 29 hingga 30 kali skg cukup 10 kali dlm satu periode tanam.

Sumber : Humas BPTP Jabar