JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Setelah Tiga Tahun Dikaji, Teknologi Patbo Super Dapat Tingkatkan Produktivitas Padi Sebesar 33%

Dr. Ir. Yanto Surdianto, MP., selaku peneliti BPTP Jabar, kembali sosialisasikan teknologi  Patbo Super setelah lakukan penelitian dan pengkajian teknnologi ini selama tiga tahun. Sosialisasi tersebut dilaksanakan di aula utama BPTP Jabar dan diikuti oleh peneliti, penyuluh dan litkayasa BPTP Jabar pada Selasa (23/07/19). 

 

Patbo adalah singkatan dari Padi Aerob Terkendali dengan berbasis Bahan Organik. Patbo Super merupakan paket teknologi budidaya padi spesifik lahan tadah hujan dengan basis manajemen air dan penggunaan bahan organik untuk  menghasilkan produktivitas tinggi serta meningkatkan Indeks Pertanaman (IP). Dalam presentasinya, Dr. Yanto menyebutkan peningkatan produktivitas padi yang menggunakan teknologi ini. “Hasil panen ubinan dengan penerapan Patbo Super meningkatkan produktivitas padi sebesar 33% dari rata-rata 5,74 menjadi 7,65 ton/Ha Gabah Kering Panen (GKP),” jelas Dr. Yanto.

 

Pengkajian teknologi ini telah dimulai sejak tahun 2017 di Desa Kebon Cau, Kec. Ujung Jaya, Sumedang dalam bentuk demfarm seluas 14 Ha dan kemudian menyusul di Desa Pasir, Kecamatan Palasah, Majalengka.  Menurutnya, salah satu permasalahan dan tantangan pada lahan sawah tadah hujan adalah permasalahan air yang hanya mengandalkan tadah hujan, “Secara ilmu Fisiologis Tanaman, produktivitas padi pada musim kemarau akan lebih tinggi karena intensitas cahaya matahari optimal dengan catatan air tersedia. Permasalahnya dari mana sumber airnya pada musim kemarau? Saya menggunakan dua sumber, yakni untuk Sumedang menggunakan air sungai dinaikan dengan pompa, sementara untuk di Majalengka menggunakan sumur pantek”.

 

Manajemen air merupakan satu dari lima komponen teknologi Patbo Super. Empat Komponen lainnya yakni, penggunaan VUB kelompok amfibi dan atau genjah, penggunaan bahan organik dan pupuk hayati, pengendalian gulma dan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja. Selama tiga tahun ini, Dr. Yanto terus memperbaiki hal-hal yang dirasa tepat untuk memaksimalkan komponen Patbo Super, seperti mengganti penggunaan Varietas hingga akhirnya ditemukan varietas yang toleran terhadap OPT terutama penyakit Blast, yakni varietas jenis inpari; 30, 32, 33, 39, dan 42. Sementara untuk pemakaian alsintan, Dr. Yanto menekankan penggunaan Combine Harvester karena penggunaan alat panen ini dapat sangat optimal pada sawah tadah hujan dibandingkan dengan lahan yang amblas pada sawah irigasi.    

 

"Teknologi Patbo Super sudah layak untuk dikembangkan ke wilayah lain dengan agro ekosistem yang sama yaitu Sawah Tada Hujan" Ujar Dr. Yanto yang juga merupakan Ketua Program BPTP Jabar. (Humas/NRP).