Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Katam
Bank Padi
Web Visitors
Layanan Online Alsintan
e-Product

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini318
mod_vvisit_counterKemarin362
mod_vvisit_counterMinggu Ini2770
mod_vvisit_counterMinggu Lalu2424
mod_vvisit_counterBulan Ini318
mod_vvisit_counterBulan Lalu11562
mod_vvisit_counterSeluruhnya514366

Jajak Pendapat

Pendapat Anda tentang Website ini?
Program Utama
Oleh Administrator   
Kamis, 03 November 2011 17:11

MODEL PENGEMBANGAN PERTANIAN PERDESAAN MELALUI INOVASI (m-P3MI) TAHUN 2013

(Penanggung jawab: Ir. Hendi Supriyadi, M.Si)

Kegiatan Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (m-P3MI) tahun 2013 terdiri atas dua kegiatan, yaitu: (1) Pengembangan Model Percepatan Tanam untuk Meningkatkan Indeks Pertanaman Padi Pada Lahan Sawah Irigasi, yang dilaksanakan di Kecamatan Pasawahan Kabupaten kuningan, dan (2) Pengkajian Model Perbenihan Kentang untuk Mendukung Program Strategis Peningkatan Produksi Kentang, yang dilaksanakan di Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut.

Selengkapnya.......

 
Oleh Administrator   
Kamis, 03 November 2011 17:08

PENDAMPINGAN PENGEMBANGAN KAWASAN HORTIKULTURA TAHUN 2013

(Penanggung jawab: Ir. Dian Histifarina, MSi)

Hasil penggkajian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.   Inovasi teknologi yang dibutuhkan dalam pengembangan kawasan cabai merah di kecamatan Sukamantri adalah Teknologi PHT; Teknologi Budidaya Cabai Varietas Tanjung dan Kencana dan Teknologi Perbenihan serta inovasi kelembagaan.

2.   Teknologi yang dibutuhkan dalam pengembangan kawasan mangga gedong gincu antara lain penerapan SOP-GAP dimulai dari penanganan lahan, pemupukan, pemangkasan, pengendalian OPT dan tehnik penanganan segar/SOP-GHP serta teknologi pengolahan buah mangga apkir.

3.   Hasil analisis kebutuhan inovasi teknologi krisan dalam mendukung pengembangan kawasan agribisnis krisan melalui : Penerapan SOP produksi dan penanganan pasca panen berbasis GAP dan GHP; Meningkatkan kualitas produksi, kualitas hasil dan produktivitas usahatani krisan dan Efisiensi sistem produksi, pascapanen, distribusi dan perdagangan.

Selengkapnya.......

 
Oleh Administrator   
Kamis, 03 November 2011 17:00

PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI JAWA BARAT

Pendahuluan

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran, khususnya di perdesaan.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Indonesia pada bulan Maret 2013 tercatat sebanyak 28,07 juta jiwa (11,37 persen). Seiring bertambahnya jumlah penduduk makadisinyalir jumlah penduduk miskin di perdesaan akan bertambah dan menjadi masalah pokok nasional. Oleh karena itu pembangunan ekonomi nasional berbasis pertanian dan perdesaan secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengurangan penduduk miskin.

Masalah mendasar yang dihadapi petani adalah kurangnya akses kepada sumber permodalan, pasar dan teknologi serta organisasi tani yang masih lemah. Oleh karena itu sejak tahun 2008 Kementerian Pertanian telah melaksanakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di bawah koordinasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) dan berada dalam kelompok program pemberdayaan masyarakat.

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan bentuk fasilitasi bantuan modal usaha bagi petani, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang dikoordinasikan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Gapoktan merupakan kelembagaan tani pelaksana PUAP untuk penyaluran bantuan modal usaha bagi anggota. Dalam pelaksanaan kegiatan PUAP, Gapoktan didampingi oleh tenaga Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani (PMT).

Kegiatan PUAP difokuskan untuk mempercepat pengembangan usaha ekonomi produktif yang diusahakan petani yang sesuai dengan potensi wilayah setempat. Selanjutnya, Gapoktan pelaksana program PUAP diharapkan dapat menjalankan fungsi-fungsi kelembagaan ekonomi perdesaan dengan menumbuhkan Lembaga Ekonomi Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) sebagai salah satu unit usaha yang mengelola dan melayani pembiayaan usaha bagi petani anggota.

Sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam kegiatan PUAP, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat berperan dalam melaksanakan fungsi kesekretariatan PUAP di tingkat provinsi, memfasilitasi dan mengkoordinir pembayaran biaya operasional (BOP) Penyelia Mitra Tani (PMT), memfasilitasi pelaksanaan sosialisasi PUAP, verifikasi Rencana Usaha Bersama (RUB) dan dokumen administrasi Gapoktan, verifikasi administrasi usulan desa dan Gapoktan PUAP dan melakukan supervisi kegiatan PUAP.

Penyaluran dan Pemanfaatan Dana BLM-PUAP

Sejak tahun 2008 sampai 2013 telah disalurkan ke 3.613 desa/desa yang tersebar di 24 kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat, yaitu:Kota Cirebon (22), Kabupaten Cirebon (276), Indramayu (209), Majalengka (264), Kuningan (196), Sumedang (187), Bandung (209), Bandung Barat (162), Garut (222), Bekasi (92), Karawang (169), Purwakarta (156), Subang (217),  Ciamis (204), Tasikmalaya (192), Bogor (167), Sukabumi (172), Cianjur (328), Kota Bogor (32),  Kota Sukabumi (24),Kota Tasikmalaya (58), Kota Cimahi (14),Kota Depok (16) dan  Kota Banjar (25). Penyaluran dana BLM PUAP pada tahun 2013 hanya 269 gapoktan/desa,  mengalami penurunan lebih dari 50 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jumlah penyaluran dana PUAP yang paling besar terdapat di kabupaten Cianjur, Cirebon dan Majalengka, yaitu antara Rp. 20 – 35 milyar.

Pemanfaatan dana BLM PUAP dikelompokan dalam 2 (dua) jenis usaha, yaitui: 1) budidaya pertanian (on-farm), meliputi: komoditi tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan,dan 2) non budidaya (off-farm), meliputi: usaha industri rumah tangga atau pengolahan hasil pertanian, pemasaran hasil pertanian skala mikro (bakulan) dan usaha lain berbasis pertanian. Dana BLM-PUAP disalurkan melalui rekening Gapoktan dan pemanfaatannya sesuai dengan Rencana Usaha Bersama (RUB) dan Rencana Usaha Anggota (RUA) yang telah disepakati oleh pengurus dan anggota gapoktan.Pemanfaatan dana PUAP penyaluran tahun 2008 – 2012 terdistribusi pada lima jenis kegiatan usaha, yaitu tanaman pangan (46,5%), hortikultura (6,7%), perkebunan (2,3%), peternakan (10%) dan Off-farm (non budidaya) 34,5%.

Perkembangan dana BLM-PUAP yang telah disalurkan dan dimanfaatkanoleh anggota Gapoktan menunjukkan hasil yang bervariasi. Beberapa Gapoktan menunjukkan kinerja yang baik dan berhasil dalam mengembangkan dana tersebut, namun ada sebagian Gapoktan yang belum berkembang karena mengalami kemacetan dalam pengembalian dana dari anggota sehingga perputaran dana BLM-PUAP menjadi terhambat. Berdasarkan data laporan bulanan, dari dana PUAP yang disalurkan pada tahun 2008 sampai dengan 2012 yang dikelola oleh 1.779 gapoktan per bulan Oktober 2013 terlihat adaya peningkatan dari modal awal sekitar 11,3 %

Penyelia Mitra Tani (PMT)

Untuk menunjang keberhasilan kegiatan PUAP di tingkat lapangan pemerintah telah merekrut tenaga Penyelia Mitra Tani (PMT) yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian, dengan tugas utama : (a) melakukan supervisi dan advokasi proses penumbuhan kelembagaan ekonomi perdesaan (unit usaha simpan pinjam) melalui penyuluh pendamping, (b) melaksanakan pertemuan reguler dengan penyuluh pendamping dan Gapoktan, (c) melakukan verifikasi awal terhadap Rencana Usaha Bersama (RUB) dan dokumen administrasi lainnya, (d) melaksanakan pengawalan pemanfaaatan dana BLM PUAP yang dikelola Gapoktan; (e) melaksanakan fungsi pendampingan bagi Gapoktan PUAP sehingga tumbuh menjadi lembaga ekonomi petani atau lembaga keuangan mikro, dan (f) pelaporan baik dalam bentuk manual. Pada tahun 2013, di wilayah kerja provinsi Jawa Barat ditempatkan sebanyak 111 orang PMT dengan rasio 1 : 40 atau 1 PMT membina 40 gapoktan. Kinerja PMT dievaluasi pada setiap akhir tahun anggaran oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota dan akan diperpanjang pada tahun berikutnya apabila kinerjanya dinilai baik.

Penumbuhan Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

Gapoktan penerima dana BLM PUAP diarahkan untuk dibina dalam mengembangkan lembaga ekonomi ataupun LKM-A sebagai salah satu unit usaha yang dimiliki Gapoktan untuk mengelola dan melayani pembiayaan bagi petani anggota. Dari 1.779 gapoktan PUAP tahun penyaluran tahun 2008 – 2012, sebanyak 430 gapoktan atau sekitar 24 persen sudah mulai menumbuhkan Lembaga Keuangan Mikro (LKM).Dalam pelaksanaannya di lapangan, banyak faktor yang menghambat terbentuknya LKM di gapoktan, antara lain: tidak tersedianya SDM yang memiliki kemampuan mengelola LKM, ketua Gapoktan belum berminat mengembangkan unit simpan pinjam secara otonom, tidak memiliki sarana/fasilitaspendukung, dan perguliran dana pinjaman tidak lancar bahkandana pinjaman tidak dikembalikan lagi oleh anggotanya sehingga asset modal yang dikelola gapoktan semakin berkurang.Tumbuhnya LKM di Gapoktan dapat  membantu mengatasi masalah permodalan petani, menghilangkan/mengurangi ketergantungan petani kepada tengkulak/rentenir danmeningkatkan  kerjasama antar kelompok tani dan anggotanya.

Selengkapnya.......

 
Oleh Administrator   
Selasa, 01 November 2011 17:17

PENDAMPINGAN TEKNOLOGI MENDUKUNG SL-PTT TAHUN  2013

(Penanggung jawab: Drs. Iskandar, Ishaq, MP)

KABUPATEN TASIKMALAYA

1.    Gelar teknologi dapat mempercepat penyebaran teknologi PTT padi dan mampu meningkatkan pemahaman petani dan petugas dalam menerapkan komponen-komponen PTT Padi.

2.    VUB seperti Inpari 11, 13, 15, 16, 18, 20 dan Sarinah sudah diterapkan oleh petani di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Gelar Teknologi, Display varietas dan bantuan benih

3.    Gelar Teknologi telah mengubah petani koperator untuk menerapkan teknologi bibit tunggal, legowo, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanah dan tanaman, PHT, dan perontokan gabah, sedangkan bagi petani non koperator telah mengubah petani non koperator menggunakan benih bersertifikat.

4.    Teknologi PTT padi disampaikan melalui sosialisasi, pelatihan (narasumber), dan media cetak (leaflet, brosur)

 

Selengkapnya.......

 
Oleh Administrator   
Selasa, 01 November 2011 17:08

SL - PTT

Dengan peningkatan pemahaman dan penerapan teknologi PTT Padi Sawah, Padi Gogo dan Kedelai serta penerapan komponen teknologi spesifik wilayah maka diharapkan dapat meningkatkan produktifitas usaha tani dan palawija di Jawa Barat.

PUAP

Program PUAP merupakan salah satu upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat  melalui pengembangan usaha agribisnis perdesaan. Upaya pengembangan usaha agribisnis tersebut ditempuh melalui penguatan modal petani sebagai “entry point”.

Kegiatan pendampingan PUAP dilakukan di 25 kabupaten/kota, yaitu kabupaten: Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang, Bandung, Bandung Barat, Garut, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang,  Ciamis, Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Kota Depok, Kota Banjar, Kota Cimahi,  Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Bogor dan Kota Cirebon. Kabupaten/Kota  tersebut merupakan penerima Program PUAP tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012 dan 2013. Sampai dengan akhir tahun 2013, penerima dana BLM-PUAP di Jawa Barat mencapai 3.613 desa/gapoktan yang tersebar di wilayah kabupaten kota.

Laporan Akhir Tahun menyampaikan hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan di lapangan dan sebagai pertanggungjawaban penggunaan anggaran APBN 2013 selama kurun waktu 12 (dua belas) bulan. Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu diharapkanmasukan dan saran untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan pada waktu yang akan datang.

PSDS

Pelaksanaan kegiatan tanam padi sawah dengan menerapkan model percepatan tanam dilaksanakan di Desa Cidahu (Kelompok Tani Simanjangan 1), Cimara (Kelompok Tani Silega) dan Ciwiru Kelompok Tani Sabuk Halu) pada lahan milik petani. Penataan percepatan tanam dengan menanam varietas super genjah yaitu pada MH 2012/2013  (MT 1) menggunakan Varietas Inpari-7, Inpari-16, dan dan Inpari-20; sedangkan pada MK I 2013  (MT 2) menggunakan Varietas Inpari-18, Inpari-19, dan Inpari-20; serta pada MK II (MT 3) menggunakan Varietas Inpari-18 dan Inpari-20.

Inovasi teknologi model percepatan tanam pada MH 2012/2013 menggunakan varietas unggul baru berumur genjah yaitu di Desa Cidahu (8,63 ha) dan Ciwiru (2,66 ha) menggunakan Varietas Inpari-16 dan di Desa Cimara menggunakan Varietas Inpari-7  (2 ha) dan Inpari-20 (3 ha).

MP3MI

1. Telah terjadi penerapan inovasi teknologi model percepatan tanam  di wilayah luar lokasi pengkajian, yaitu pada MH 2012/2013 yaitu di Desa Cidahu (10 ha), Cimara (6 ha) dan Ciwiru (2,5 ha), dan pada MK I 2013 menyebar ke luar lokasi yaitu Kecamatan Pasawahan (25 ha), Pancalang (22 ha) dan Mandirancan (5 ha).

2. Dalam rangka peningkatan penyediaan benih kentang bermutu yang akan mendukung program strategis peningkatan produksi kentang telah dilakukan pengkajian model perbenihan kentang di Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut dengan melibatkan petani penangkar benih kentang di wilayah pengkajian melalui penerapan Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) penangkaran benih kentang yang telah dibuat.

3. Telah terjadi peningkatkan kinerja kelompok tani, Pemerintah Daerah, dan kelembagaan pendukung usahatani.

4. Telah dilakukan rintisan jaringan kerjasama antar kelembagaan agribisnis di lokasi pengkajian.

Kawasan Hortikultura

Inovasi teknologi hortikultura diimplementasikan secara partisipatif dalam suatu wilayah dengan menggunakan 5 pendekatan yaitu melalui pendekatan sumber daya alam (kesesuaian lahan agroklimat), sumber daya manusia, agribisnis, wilayah dan kelembagaan.  Penggunaan pendekatan agroekosistem berarti implementasi inovasi dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian kondisi bio-fisik lokasi yang meliputi aspek sumber daya lahan, air, wilayah komoditas, dan komoditas dominan. Pendekatan agribisnis diartikan bahwa impementasi inovasi teknologi hortikultura perlu memperhatikan struktur dan keterkaitan subsistem penyediaan input, usahatani, pascapanen, pemasaran, dan penaunjang dalam suatu sistem. Pendekatan wilyah diartikan bahwa penggunaan lahan untuk kegiatan usaha hortikultura mengacu pada suatu kawasan. Pemilihan inovasi yang akan diterapkan dalam suatu kawasan perlu mempertimbangkan risiko ekonomi akibat fluktuasi harga. Pendekatan kelembagaan berarti pelaksanaan model pengembangan inovasi tidak hanya memperhatikan keberadaan dan fungsi suatu organisasi ekonomi, namun juga mencakup modal sosial,norma dan aturan yang berlaku di lokasi.

 
Artikel Lain...


Joomla Templates by JoomlaVision.com